Pulau Dewata bukan hanya dikenal dengan keindahan pariwisata, tapi juga terkenal dengan kebudayaannya yang terjaga. Salah satu budaya yang masih sangat dijaga hingga saat ini adalah pakaian adat Bali pria ke pura.
Sudah menjadi adat bagi masyarakat Bali untuk selalu menggunakan pakaian adat saat pergi beribadah ke pura. Pakaian adat tersebut memiliki karakteristik dan juga makna yang melambangkan kesucian, berikut ini informasi lengkapnya!
Pakaian adat pria dengan pakaian adat Bali wanita untuk beribadah ke pura ini berbeda. Keduanya memiliki karakteristik dan makna yang dalam. Tidak hanya untuk tujuan beribadah, tapi pakaian tersebut juga dipakai untuk beberapa upacara adat, sebagai berikut!
Umumnya, untuk beribadah atau mengikuti upacara adat keagamaan di pura, para laki-laki menggunakan Payas Alit atau Payas Madya. Pakaian adat ini lebih sering digunakan untuk kegiatan sehari-hari, sembahyang di pura ataupun di rumah.
Salah satu yang menjadi ciri khas Payas Alit adalah warnanya putih bersih, dan penggunaan udeng serta kamen. Udeng ini terbuat dari kain tenun yang dilipat dan digulung diikat ke kepala. Untuk Kamen pada Payas Alit ini tanpa motif atau polos berwarna putih.
Berikutnya, baju adat Bali pria yang lebih formal untuk dipakai ke pura, yakni Payas Madya. Pakaian ini lebih sering digunakan untuk mengikuti upacara adat dan keagamaan di Bali. Ciri khasnya, yakni baju berwarna putih bersih, serta penggunaan udeng, kamen, dan saput.
Untuk Payas Madya, udeng yang dipakai merupakan udeng gelungan atau udeng simpul yang terbuat dari kain tenun yang diikat simpul. Kamen dan saputan yang dipakai harus berwarna putih boleh polos atau bermotif.
Payas Agung merupakan baju tradisional yang hanya dipakai oleh para pemangku adat upacara keagamaan. Umumnya baju ini berwarna merah, dan kainnya bukan dari kain tenun tapi dari kain sutra.
Bukan sekedar baju berih untuk beribadah, tapi pakaian adat yang digunakan tersebut memiliki makna yang cukup filosofis. Tiap komponen baju adat Bali yang digunakan terdapat makna tersendiri, sebagai berikut!
Tidak hanya wanita yang menggunakan kain kamen, tapi pria juga. Umumnya kain kamen yang digunakan adalah kain berwarna putih yang melambangkan arti kesucian. Pemakaian kain ini dengan cara dilipat melingkar dari kiri ke kanan.
Pemakaian kain kamen tersebut terdapat arti tersendiri loh! Kamen dilingkarkan dari arah kiri ke kanan menunjukkan bahwa pria memegang Dharma atau kebaikan. Sedangkan kamen pada wanita digunakan sebagai pengganti celana.
Selanjutnya, ada saputan atau dikenal juga dengan sebutan kampuh. Saputan ini dipakai untuk menghadang musuh dari luar. Cara menggunakannya dengan melingkarkan secara berlawanan arah jarum jam.
Udeng adalah kain yang diikatkan di kepala berguna untuk melindungi kepala, mencegah adanya rambut rontok. Dengan ini, kesucian pura akan tetap terjaga karena telah dilindungi oleh udeng.
Sudah menjadi salah satu kewajiban bagi wisatawan untuk mengetahui aturan cara berpakai. Terdapat tiga jenis pakaian adat Bali pria ke pura dengan ciri khas dan makna filosofis. Anda yang membutuhkan transportasi selama di Bali, gunakan rental mobil dari Putri Bali Rental.