
Selama menjelajahi Bali, Anda pasti bisa menemukan keranjang kecil dari daun kelapa di sepanjang trotoar bahkan di tempat parkir. Benda tersebut dikenal dengan sebutan Canang Sari Bali yang memiliki arti bagi masyarakat Bali.
Canang Sari merupakan salah satu bentuk ragam budaya umat Hindu di Bali. Benda ini bukan sekedar hiasan, tapi merupakan bentuk persembahan harian kepada Sang Hyang Widhi. Lalu, apa sebenarnya Canag Sari ini? Yuk simak penjelasannya di bawah!
Secara bahasa canang memiliki arti sebagai wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa, dan sari merupakan inti. Dan, secara historis makna Canang Sari merupakan sebuah sarana untuk memohon kekuatan kepada Tuhan.
Canang menggunakan alas berbentuk segi empat terbuat dari janur merupakan simbol kekuatan. Lalu, di atas alas diisikan porosan yang dimaknai sebagai simbol welas asih dan ketulusan terhadap Sang Hyang Widhi.
Sejarah Canang Sari sudah ada sejah berabad-abad dan tetap dilaksanakan meski adanya perubahan evolusi zaman. Meskipun para pakar sulit menentukan garis waktu yang tepat, tapi keberadaan canang ini berasal dari Veda kuno India.
Konsep ini dari Vedo kuno ini membuat persembahan untuk tetap menjaga keharmonisan antar manusia, dewa, dan alam semesta. Awalnya masyarakat menggunakan bahan-bahan alami yang mudah didapat.
Seiring perkembangan zaman, terdapat perbuahan struktur dan komponen Canang Sari modern. Namun, kehadiran persembahan ini menandakan kuatnya tradisi yang terus-menerus dilakukan di tengah modernnya zaman.
Canang merupakan perlengkapan dalam tradisi keagamaan umat Hindu di Bali sebagai persembahan tiap harinya. Di dalamnya terdapat isian yang memiliki makna masing-masing. Adapun isi Canang Sari dan maknanya, sebagai berikut!
Adapun komponen yang ada di dalam Canang Sari Bali, yakni ceper atau alas yang terbuat dari janur. Keempat sisinya adalah simbol Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan panca Karmendriya.
Masyarakat Hindu di Bali akan menganyam janur tersebut dengan rumit hingga membentuk sebuah keranjang berbentuk persegi. Alas ini nantinya akan menjadi wadah yang menampung seluruh elemen suci bagaikan tubuh manusia atau alam semesta.
Masyarakat membuat porosan dari daun sirih, kapur, dan gambir yang memiliki makna sebagai Tri-Premana. Komponen ini melambangkan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang membuat seorang manusia melakukan aktivitas.
Salah satu unsur-unsur Canang Sari yang paling mencolok pada mata adalah aneka bunga. Di dalam canang terdapat bunga putih seperti melati atau kamboja. Selain itu, ada bunga mawar, kembang sepatu, cempaka, dan tapak dara.
Susunan bunga putih, merah, kuning, dan hijau ini merupakan bentuk hormat kepada para dewa mata angina dan Trimurti. Dengan ini, kembang melambangkan bentuk hormat terhadap dewa penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran.
Biasanya di dalam canang juga terdapat beras atau wija yang melambangkan Sang Hyang Atma sebagai pemberi ruh pada badan. Beras menjadi benih dari awal kehidupan dan merupakan sumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Canang Sari Bali adalah bentuk tradisi keagamaan yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Sebagai wisatawan, Anda tetap harus menghormati adanya sesajen tersebut. Jangan lupa gunakan Putri Bali Rental untuk memudahkan perjalanan!