
Tiap tahunnya umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi. Hari tersebut menjadi momen sakral untuk muhasabah diri dan penyucian semesta. Dan, inti dari perayaan Nyepi ada pada Catur Brata Penyepian.
Hal ini mengajarkan umat manusia untuk berhenti sejenak dari segala keributan, menenangkan pikiran, dan kembali menyeimbangkan diri dengan alam. Namun, di tengah adanya modernisasi ini apakah masih diterapkan dengan baik?
Inti dari pelaksanaan hari raya Nyepi ada pada Catur Brata yang terdiri dalam 4 bentuk pengendalian diri. Semua bentuknya mengajarkan umat Hindu untuk mengendalikan diri, menenangkan pikiran, dan menyucikan diri dengan 4 bagian berikut!
Tujuan Catur Brata mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak menahan diri dari hawa nafsu duniawi. Hal ini tercerminkan dalam bagiannya, yakni Amati Geni yang menandakan api atau cahaya.
Dalam praktiknya, Amati Geni ini juga bermakna sebagai puasa mengendalikan diri dari makan dan minum. Melalui ini, manusia mematikan api yang berarti sebagai keinginan dari dalam diri yang ada pada perut dan juga hawa nafsu.
Setelah, puasa Catur Brata umat Hindu di Bali juga tidak boleh melakukan aktivitas atau kegiatan duniawi atau Amati Karya. Hal ini bertujuan untuk menurunkan ego manusia yang sering haus akan terus menghasilkan sesuatu.
Amati Karya juga memberikan ruang bagi alam untuk istirahat sejenak hingga tercipta keharmonisan. Pada bagian ini, manusia dituntun untuk memahami bahwa hidup bukan untuk terus memaksakan keinginan tapi memenuhi kebutuhan.
Tahapan dalam Catur Brata berikutnya, yakni Amati Lelungan yang berarti tidak melakukan perjalanan ke mana pun. Bila manusia biasanya terus ingin melangkah, waktu justru meminta mereka untuk diam sejenak.
Fase ini, menjadi langkah awal mengajak manusia untuk menyelami isi hati. Di tengah henging inilah, pemahaman tentang hidup mulai tumbuh perlahan. Tidak lama kemudian, pola pikir akan memberi celah menemukan jati diri sejatinya.
Fase Amati Lelanguan ini, manusia harus menjauhi tontonan atau suara yang kerap kali menarik perhatian. Jadi, masyarakat Hindu berhenti mengumbar kesenangan atau berhura-hura untuk sementara waktu.
Melalui bagian ini, manusia benar-benar diajak untuk merasakan murninya spiritual dengan menjauh dari godaan duniawi. Di antara suasana sunyi dan sederhana, jiwa jadi lebih peka sehingga mampu merasakan keharmonisan dengan Sang Pencipta.
Tradisi di hari raya Nyepi sangatlah kental, dan seluruhnya dijalankan sesuai yang telah ditentukan. Suasananya sangat terasa di seluruh pelosok Bali, tapi di era modern ini rasa tersebut mulai perlahan hilang.
Lalu, apakah tradisi ini masih relevan dilakukan di era modern ini? Meski mendapatkan banyak sekali tantangan, tapi tidak sedikit masyarakat Hindu di Bali yang menjaga tradisi ini. Kesadaran masyarakat untuk terus melaksanakan tradisi ini sangat berpengaruh.
Catur Brata Penyepian masih relevan untuk dilakukan, tergantung pada keputusan dan kesadaran masyarakatnya. Walaupun banyak sekali tantangan yang membuat tradisi ini kurang terasa sakral, tapi tradisi ini masih harus terus dilaksanakan.
Tradisi Catur Brata Penyepian yang merupakan bagian inti dari perayaan hari raya Nyepi. Bagi Anda yang ingin merasakan bagaimana tradisi ini? Jangan lupa untuk menggunakan layanan paket perjalanan dari Putri Rental Bali.