
Alam yang mempesona dan uniknya budaya yang masih lestari hingga sekarang menjadikan daya tarik Bali tidak ada duanya. Mekotek adalah salah satu tradisi unik yang ribuan warga lakukan saat Hari Raya Kuningan.
Tradisi ini disebut sebagai simbol kemenangan sekaligus sebagai upacara adat untuk menolak bala. Mekotek melibatkan pembentukan formasi piramida menggunakan kayu yang warga bawa. Mari kenali lebih lengkap tentang tradisi Mekotek.
Tradisi Mekotek Bali merupakan upacara adat dari Desa Munggu, Mengwi, Kabupaten Badung. Istilah Mekotek sendiri berasal dari bunyi โtek-tek-tekโ yang keluar saat ujung tongkat kayu saling bertemu.
Dalam upaya Mekotek, ratusan hingga ribuan warga akan menyatukan tongkat panjang untuk membentuk formasi seperti pyramid yang menjulang tinggi.
Tradisi Mekotek di Munggu bertujuan untuk memohon keselamatan sekaligus menolak bala. Pelaksanaan tradisi berlangsung setiap 210 hari (6 bulan sekali), yakni pada hari Sabtu Kliwon, tepatnya pada Hari Raya Kuningan.
Sejarah tradisi Mekotek bermula dari masa kejayaan Kerajaan Mengwi, sekitar tahun 1700-an. Kala itu, kerajaan menguasai wilayah yang luas hingga Blambangan (Banyuwangi).
Salah satu istana Kerajaan Mengwi terletak di Desa Munggu. Sehingga masyarakat Munggu juga mendapatkan kepercayaan sebagai penggawa pasukan.
Ketika terjadi perebutan wilayah akibat perlawanan dari Blambangan, masyarakat Munggu ikut turun ke medan pertempusat sebagai prajurit. Mereka mendapatkan julukan sebagai Taruna Munggu.
Sebelum Taruna Munggu berangkat, raja melakukan semedi di Pura Dalem Kahyangan Wisesa Munggu. Semedi ini bertepatan dengan hari suci Tumpek Kuningan, yang mana nantinya menjadi cikal bakal pelaksanaan Mekotek.
Taruna Munggu berhasil membawa pulang kemenangan. Untuk menyambut kepulangan para prajurit, masyarakat mengadakan upacara penghormatan yang kemudian dikenal sebagai Mekotek.
Dulunya prosesi Mekotek menggunakan tombak besi. Namun, karena tombak besi berisiko membahayakan, upacara pun berganti menggunakan tongkat kayu pulet.
Kayu pulet menjadi pengganti pilihan sebab memiliki karakteristik yang kuat dan lentur. Kayu ini bahkan bisa tahan hingga 15 tahun jika penyimpanannya baik.
Mekotek atau Negerebeg Mekotek diikuti oleh warga laki-laki usia 12-50 tahun. Para peserta wajib mengenakan pakaian adat madya, yang terdiri dari kancut dan udeng batik.
Peserta Mekotek juga arus menyiapkan kayu pulet sepanjang 2-3,5 meter. Kayu perlu dikupas kulitnya terlebih dahulu sebelum penggunaan.
Setelah persiapan selesai, peserta berkumpul di Pura Puseh dan Munggu untuk melakukan persembahyangan. Mereka menyampaikan doa dan bersyukur atas hasil perkebunan. Usai sembahyang, peserta melakukan pawai menuju Pura Luhur Beten Bingin.
Sampai di pura, para peserta akan membentuk beberapa kelompok yang terdiri dari 50 orang peserta. Peserta Mekotek tersebar di beberapa titik untuk melangsungkan prosesi.
Tongkat kayu milik peserta dibawa dan diadu di atas udara. Kemudian peserta menyusun tongkat kayu membentuk kerucut atau piramida.
Alunan gamelan Baleganjur akan mengiringi prosesi Mekotek. Tabuh gamelan menambah semarak prosesi sekaligus mendorong semangat para peserta untuk menyatukan semua kayu pulet.
Saat prosesi, beberapa peserta akan naik ke puncak piramida dan mengambil peran sebagai komando. Sementara itu, peserta yang memegang kayu terus bersorak sambil menyusun seluruh kayu. Kelompok peserta akan saling berlomba-lomba sehingga suasana semakin semarak.
Sekian pembahasan tentang keunikan tradisi Mekotek dari desa Munggu. Tradisi ini masih terus dilaksanakan hingga sekarang sebagai penghormatan jasa leluhur sekaligus penolak bala.
Bagi yang tertarik melihat meriahnya Ngerebeg Mekotek, bisa merencanakan liburan ke Bali menjelang Hari Raya Kuningan. Untuk kenyamanan perjalanan liburan optimal, hubungi sewa mobil murah dari Putri Bali Rental.