
Masyarakat Hindu di Bali memiliki sejumlah ritual khas untuk menyambut Hari Raya Nyepi. Salah satunya dengan mengadakan Pawai Ogoh-ogoh sebagai bentuk upacara menghalau buta kala.
Awalnya pawai ini hanyalah prosesi dari ritual Bhuta Yadnya, tapi seiring waktu kemudian berkembang menjadi sebuah festival tahunan. Tidak heran banyak sekali wisatawan yang berdatangan untuk menyaksikan langsung kemeriahannya!
Tidak heran jika pawai ini banyak sekali menarik wisatawan untuk datang. Karena dibalik meriahnya ada sejarah Ogoh-Ogoh yang ingin diketahui para pelancong. Ogoh-ogoh sendiri berasal dari patung Lelakut yang gunanya untuk mengusir burung.
Di mana ogoh-ogoh dibentuk sebagai simbol Butha Kala sebagai representasi bentuk kejahatan. Sebuah patung ogoh yang sudah selesai dibuat, nantinya akan didoakan, lalu diarak mengelilingi desa menuju tempat pembakaran jenazah.
Ritual ini dimulai saat menjelang malam atau sore hari. Masyarkat percaya bahwa tujuan daripawai ini untuk membersihkan alam semesta dan menyucikan diri. Pawai ini juga memontum penting untuk merayakan kekayaan budaya dan mewariskan ke generasi muda.
Bagi Anda yang ingin melihat bagaimana Ogoh-Ogoh Bali diarak. Anda bisa menemukannya di beberapa tempat, yakni sekitar Patung Catur Muka Puputan atau pusat alun-alun Denpasar. Selain itu, Anda juga bisa menyaksikannya di monumen Ground Zero Kuta.
Pawai ini juga bisa Anda temukan di kawasan Renon menuju ke arah McDonaldโs Sanur melewati Bypass Ngurah Rai. Selanjutnya, pawai akan berakhir di Jalan Hang Tuah.ย
Ogoh-ogoh melambangkan karakteristik atau ciri-ciri negatif dalam diri manusia. Tapi kini patung banyak yang berbentuk hewan mitologis, tokoh wayang, atau bahkan dewa-dewi. Bahan pembuatannya juga dari bambu atau rotan kemudian dilapisi dengan kertas.
Dalam proses pembuatannya pun penuh makna persatuan. Di mana dalam prosesnya melibatkan banyak warga dan memerlukan kekompakkan yang menciptakan gotong royong. Jadi, ogoh-ogoh bukan sekedar tradisi penetral energi negatif.
Ritual ini bertujuan untuk menyucikan diri dan juga menghalau seluruh energi negatif dalam hidup manusia. Rangkaian ritual Bhuta Yadnya memiliki dua tahapan, yakni mecaru dan ngurpuk. Tradisi ini dilakukan 1 hari sebelum Nyepi, sebagai berikut!
Proses pertama yang ada pada ritual ini, yakni mecaru atau pecaruan. Ritual ini dilakukan sebagai wujud persembahan aneka sesajen kepada Buta Kala. Mecaru dilakukan oleh keluarga, banjar, kecamatan, kabupaten, hingga tingkat provinsi.
Berikutnya, ada ritual berkeliling sambil membuat bunyi-bunyian sembari menebar nasi tawur. Pada ritual inilah pawai Ogoh-Ogoh juga dilakukan, dengan mengarak patung bertujuan agar bhuta kala segera menjauh dan tidak mengganggu kehidupan.
Persiapan pawainya saja dimulai dari sore hari, dan pawai akan berlangsung sampai tengah malam. Awalnya hanya sebuah tradisi, tapi sekarang sudah menjadi salah satu tontonan yang menarik bagi para pelancong sebelum Nyepi.
Menyaksikan pawai ini bukan sekedar melihat pertunjukkan seni tapi juga memahami nilai kebudayaan. Agar Anda tetap nyaman pastikan Anda menerapkan beberapa tips ini:
Pawai Ogoh Ogoh bukan sekedar tradisi keagamaan umat Hindu, tapi juga jadi tontonan para wisatawan. Bagi Anda yang hendak berpergian menonton pawai budaya di Bali, jangan lupa gunakan rental dari Putri Bali Rental!