
Bicara soal bandara di Bali, semua orang pasti akan langsung menyebut I Gusti Ngurah Rai yang ada di Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Namun, tahukah Anda jika pemerintah berencana untuk membangun Bandara Bali Utara sebagai opsi alternatif Ngurah Rai?
Rencana ini sudah ada sejak tahun 2013 ketika I Made Mangku Pastika masih menjabat sebagai Gubernur Provinsi Bali. Kini, setelah 13 tahun berlalu sejak inisiasi proyek bandara baru, banyak orang ingin tahu info terkini pembangunan Bandara Bali Utara.
Faktanya, ada banyak informasi tentang Bandara Bali Utara terbaru yang wajib Anda tahu, mengingat skala proyeknya yang cukup besar. Karena itu, berikut adalah semua informasi penting yang terkait dengan pembangunan bandara per tahun 2026!
Sudah jadi rahasia umum jika Pulau Bali adalah salah satu tujuan utama liburan bagi para turis domestik maupun asing, terlebih dengan kemunculan berbagai wisata baru di Bali di setiap tahunnya. Hampir semua turis tersebut datang ke Bali melalui jalur udara.
Karena itu, tidak heran jika kawasan I Gusti Ngurah Rai sebagai satu-satunya bandara di Bali sering terasa sesak dan macet. Terlebih jika turis tersebut memilih penginapan di Kuta, mengingat lokasinya yang lebih dekat dengan bandara daripada pelabuhan.
Mengingat kemacetan yang terus terjadi, pemerintah daerah mulai mengembangkan proyek bandara baru di Bali agar tidak semuanya menumpuk di I Gusti Ngurah Rai. Kementerian PPN/BAPPENAS pun sudah menuliskan proyeknya dalam PPP Book 2013.
Gubernur Bali pada saat itu, I Made Mangku Pastika, mengusulkan untuk membangun bandara baru di utara Bali. Hal ini karena Bandara I Gusti Ngurah Rai lebih dekat dengan daerah selatan dan tengah, sehingga idealnya bandara baru ada di utara.
Pada tahun 2015, pemerintah menentukan bahwa lokasi Bandara Bali Utara akan terletak di area Kubutambahan, Kabupaten Buleleng, Bali. Hal ini selaras dengan lokasi pembangunan kota baru THKON Aerotropolis yang sama berdasarkan pada Tri Hita Karana.
Alasan kenapa I Made Mangku Pastika memilih daerah utara adalah untuk pemerataan ekonomi. Hal ini karena daerah selatan hampir selalu padat turis meskipun saat low season Bali. Untuk mengurangi kepadatan, dia ingin membangun kota baru di utara.
Penting untuk Anda catat bahwa proyek baru tidak bisa langsung berjalan begitu saja, terutama yang berpengaruh pada hajat hidup orang banyak. Artinya, sebelum pembangunan Bandara Bali Utara, harus ada studi kelayakan agar hasilnya jauh lebih maksimal.
Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman pada saat itu, Luhut Binsar Panjaitan, baru menyetujui studi kelayakan bandara 3 tahun setelah pemilihan lokasinya. Hal ini membuat proses studi kelayakan baru dimulai pada tahun 2018 di Kabupaten Buleleng Bali.
Hanya saja, selama masa studi kelayakan ada banyak protes dari warga sekitar yang terdampak pembangunan. Hal ini karena sebagian besar tanah yang akan digunakan untuk membuat bandara adalah lahan pertanian, tempat pencaharian masyarakat sekitar.
Selama masa studi kelayakan, ada beberapa kekurangan dari lokasi lama di Kabupaten Kubutambahan, salah satunya karena mayoritas lahan merupakan lahan pertanian aktif. Artinya, masyarakat sekitar masih menggunakannya sebagai tempat mencari pendapatan.
Namun jika ingin memindahkan lokasi proyek ke tempat lain, pemerintah Bali harus mengikuti aturan regulasinya terlebih dulu. Salah satunya aturan regulasi tentang pembatalan lokasi lama dan penunjukan lokasi baru agar memenuhi prinsip 3S + 1C.
Prinsip 3S + 1C sendiri merupakan singkatan dari safety (keselamatan, security (keamanan), services (layanan), dan compliance (kepatuhan terhadap aturan). Sayangnya tidak ada update apapun tentang penunjukan lokasi bandara yang baru.
Karena ada protes dari warga sekitar dan tidak ada perkembangan terkait dengan pembebasan lahan, Bandara Bali Utara batal dibangun pada tahun 2022. Presiden pada saat itu, Joko Widodo, mencoret namanya dari Proyek Strategis Nasional (PSN).
Padahal, awalnya rencana pembangunan Bandara Internasional Bali Utara sangat massive dengan 3.600 meter dan lebar 45 meter, sehingga berbagai pesawat besar bisa mendarat di sini. Bandara ini bisa menampung hingga 50 juta penumpang per tahun.
Hal ini bisa membantu mengurangi kemacetan yang ada di Bandara I Gusti Ngurah Rai. Namun karena masalah lahan dan kekhawatiran terhadap lingkungan selama studi kelayakan, Jokowi pun memutuskan untuk membatalkan proyek pembangunannya.
Ketika masa pemerintahan Joko Widodo berakhir, Prabowo Subianto sebagai presiden baru memutuskan untuk mulai melanjutkan pembangunan bandara ini di tahun 2025. Pasalnya, proyeknya tertulis di Perpres Nomor 12 Tahun 2025 tentang RPJMN 2025โ2029.
RPJMN sendiri merupakan singkatan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional, yang berisi berbagai proyek menengah di masa pemerintahan Prabowo tahun 2025-2029. Salah satu proyek yang jadi prioritas adalah pembangunan bandara di utara Bali.
Rencananya, bandara tersebut merupakan bandara internasional yang berfungsi untuk membantu lalu lintas jalur udara di bagian utara. Jadi, lalu lintas tidak bertumpuk di area selatan, khususnya di Bandara I Gusti Ngurah Rai yang terletak di Kuta, Badung, Bali.
Desain Bandara Bali Utara bahkan sudah ada, dibuat oleh arsitektur dari Alien Design Consultant dengan bentuk yang terinspirasi dari mitologi Bedawang Nala. Kesan futuristik begitu terasa, dengan lengkungan yang mirip dengan cangkang penyu.
Rencananya, ruang interior bandara akan memberikan pengalaman khas perjalanan kosmik bagi para turis. Pastinya dengan memerhatikan harmoni dengan manusia dan harmoni dengan alam khas filosofi Bali. Bahkan rencananya, bandara ini akan jadi ruang budaya.
Meskipun rencana pembangunan dan desainnya sudah ada sejak tahun 2025, namun proses pembangunannya masih belum dimulai hingga sekarang. Hal ini karena masih banyak pertimbangan yang belum matang, sehingga groundbreaking belum dilakukan.
Karena pembangunan bandara belum matang, pemerintah Bali pun fokus ke pembangunan Lapangan Terbang Letkol Wisnu. Jika Anda bandingkan dengan rencana pembangunan yang sebelumnya, skala pembangunan bandara ini memang lebih kecil.
Hal ini karena lapangan terbang tersebut sudah eksis, sehingga hanya perlu perbaikan infrastruktur dan lain-lain. Fungsinya bukan merupakan bandara komersial, namun bandara khusus untuk pendaratan darurat dan jadi pusat logistik Bali.
Sebelumnya, bandara ini digunakan oleh sekolah penerbangan untuk para siswa melakukan pembelajaran. Hanya saja, kontrak dengan sekolah penerbangan sudah selesai pada tahun 2023, sehingga lapangan terbang ini sempat nonaktif dan tidak dipakai.
Itulah segala informasi tentang Bandara Bali Utara, dari awal perencanaannya hingga informasi terkini pembangunannya di tahun 2026. Kini Anda masih bisa liburan ke Bali via Bandara I Gusti Ngurah Rai dan memesan mobil sewaan di Putri Bali Rental.