
Datang ke festival selama liburan di Bali ternyata bisa jadi opsi kegiatan yang sangat menyenangkan. Salah satunya berkunjung ke Buduh Kite Festival, festival layang-layang yang memadukan kreativitas, tradisi, dan semangat kebersamaan.
Festival ini menjadi bukti bahwa permainan tradisional masih memiliki tempat istimewa di tengah perkembangan zaman. Khususnya bagi masyarakat Bali yang masih menjunjung tinggi nilai-nilai seni dan budaya.
Sejarah Buduh Kite sendiri bermula dari beberapa tahun lalu. Menurut catatan, Buduh Kite Festival edisi kedua diselenggarakan pada bulan Agustus 2018 dan edisi keempat berlangsung Agustus 2026.
Pada dasarnya, festival ini berakar dari tradisi masyarakat Bali yang telah lama menjadikan layang-layang sebagai bagian dari kehidupan sosial dan budaya. Dahulu, permainan layang-layang dilakukan setelah musim panen.
Saat itu, masyarakat memiliki waktu luang untuk berkumpul dan mempererat hubungan. Seiring waktu, kegiatan sederhana tersebut berkembang menjadi sebuah festival yang melibatkan lebih banyak peserta dan penonton.
Lomba layang-layang ini tergolong sebagai kegiatan yang luar biasa. Penyelenggaranya adalah Sekaa Teruna (ST) Panca Dharma Banjar Wanasara. Itulah sebabnya lokasi festival berada di Subak Lanyah Banjar Wanasara, Desa Bongan, Tabanan, Bali.
Wilayah tersebut memang terkenal memiliki hamparan sawah luas dan area terbuka sehingga sangat ideal untuk menerbangkan layang-layang berukuran besar. Latar belakang persawahan dan langit biru menjadi daya tarik tersendiri bagi para fotografer maupun wisatawan.
Festival ini biasanya berlangsung pada musim kemarau, ketika kondisi angin relatif stabil dan cuaca cenderung cerah. Sekitar bulan Agustus, mengingat edisi kedua dan keempat juga berlangsung di bulan yang sama.
Penyelenggaraan Buduh Kite 2026 sudah digelar pada 02 Agustus 2026 lalu. Gelaran festival bahkan menarik jumlah peserta yang begitu banyak, sekitar 1.000 peserta. Acara ini menjadi wadah bagi masyarakat untuk menyalurkan kreativitas dan mempererat kebersamaan.
Saat acara berlangsung, turut hadir pula beberapa tokoh penting. Mulai dari Wakil Bupati Tabanan I Made Dirga, anggota DPRD Provinsi Bali, anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Sekretaris Camat Tabanan, dan tokoh masyarakat.
Antusiasme sekitar 1.000 peserta sangat mencerminkan kuatnya semangat gotong royong masyarakat Desa Bongan. Di sisi lain, festival ini juga menjadi sarana bagi generasi muda untuk melestarikan budaya Bali.
Lebih dari sekadar festival layang-layang biasa, Buduh Kite punya daya tarik yang beragam. Diperkirakan ada ratusan bahkan ribuan penonton yang mendatangi kawasan penyelenggaraan festival ini.
Sesuai dengan namanya, Buduh Kite Festival memiliki magnet bagi wisatawan berupa pertunjukan layang-layang yang spektakuler. Ada banyak sekali bentuk layang-layang yang bisa ditemukan oleh wisatawan.
Mulai dari layang-layang berbentuk ikan, burung, bahkan naga. Desain-desain layangan di sana terbilang unik karena mempunyai ukuran yang begitu besar. Pembuatannya juga melibatkan banyak komunitas layang-layang lokal.
Saat angin mulai bertiup, ratusan hingga ribuan layang-layang diterbangkan secara bergantian. Pemandangan langit pun penuh aneka warna dan bentuk yang menciptakan panorama memukau.
Wisatawan sering kali datang ke festival layang-layang hanya untuk menikmati suasananya. Sebab, acara festival memiliki suasana yang erat dengan kehangatan dan semangat kebersamaan.
Sejak pagi hari, area festival telah dipenuhi peserta, warga lokal, hingga wisatawan. Sorak-sorai penonton berpadu dengan suara angin dan iringan musik tradisional menciptakan atmosfer yang meriah.
Di sepanjang area penyelenggaraan, wisatawan bisa melihat berbagai stan kuliner, produk UMKM, hingga kerajinan khas Bali. Kehadiran pedagang lokal membuat festival semakin hidup.
Berkunjung ke festival di Tabanan memang selalu menawarkan pengalaman liburan yang luar biasa. Sebab, festival layang-layang menawarkan nilai-nilai kearifan lokal yang tumbuh di balik kemeriahannya.
Tradisi menerbangkan layang-layang di Bali tidak hanya dipandang sebagai permainan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan. Proses pembuatan layang-layang pun dilakukan secara gotong royong oleh anggota komunitas.

Istimewanya, wisatawan tidak hanya bisa menikmati keindahan layang-layang saja. Penasaran dengan aktivitas apa saja yang bisa dinikmati selama berkunjung ke festival? Simak penjelasan di bawah ini hingga selesai.
Lomba layang-layang merupakan agenda utama yang paling ditunggu dalam Buduh Kite Festival. Berbagai tim dari desa, komunitas, hingga kelompok pecinta layang-layang berlomba menampilkan karya terbaiknya.
Ada cukup banyak aspek yang masuk ke dalam penilaian. Meliputi kreativitas desain, ukuran, kestabilan saat mengudara, dan kekompakan tim. Bagi wisatawan, menyaksikan perlombaan ini memberikan pengalaman yang berbeda dibandingkan festival lainnya.
Penyelenggaraan Buduh Kite juga ramai berkat penampilan berbagai pertunjukan khas Bali. Tarian tradisional, tabuh gamelan, hingga penampilan musik daerah biasanya menjadi bagian dari rangkaian acara festival layang-layang ini.
Wisatawan dapat menyaksikan langsung keindahan gerakan tari, irama musik tradisional, serta busana adat Bali yang penuh makna. Pengalaman ini tentu memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai kekayaan budaya Pulau Dewata.
Berkunjung ke festival layang-layang Bali akan lebih sempurna jika wisatawan menyempatkan diri untuk menjelajah kuliner di sana. Berbagai hidangan tradisional, jajanan pasar, hingga minuman segar tersedia untuk menemani wisatawan.
Supaya kunjungan ke festival layang-layang terasa tetap nyaman, perhatikan beberapa tips di bawah ini. Gunakan pakaian yang sesuai, bawa perlengkapan sesuai kebutuhan, dan datang pada waktu terbaik.
Buduh Kite Festival berlangsung di area terbuka. Oleh karena itu, kenakan pakaian berbahan ringan yang mampu menyerap keringat agar tetap nyaman selama mengikuti rangkaian acara. Pilihlah kaus katun, kemeja linen, atau pakaian dengan bahan yang sejuk.
Berkunjung ke acara festival di Bali akan semakin nyaman apabila wisatawan membawa botol minum pribadi, tabir surya, kamera, dan uang tunai secukupnya. Meski tampak sepele, perlengkapan tersebut sangatlah membantu wisatawan menikmati festival.
Datang lebih awal merupakan salah satu cara terbaik untuk menikmati festival ini. Pada pagi hingga menjelang siang, wisatawan bisa melihat persiapan para peserta. Mulai dari perakitan layang-layang hingga mengamati bagaimana setiap tim bersiap mengikuti perlombaan.
Mengunjungi festival layang-layang di Bali akan terasa lebih nyaman jika wisatawan mempertimbangkan penggunaan mobil sewa. Sebab, wisatawan bisa mengatur sendiri jadwal perjalanan tanpa harus bergantung pada transportasi umum.
Putri Bali Rental dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang membutuhkan layanan sewa mobil di Bali. Seluruh armadanya terawat, cocok untuk perjalanan solo, keluarga, maupun rombongan.
Buduh Kite Festival menjadi wadah bagi masyarakat Bali untuk memupuk kebersamaan. Festival ini membuktikan bahwa tradisi lokal dapat terus berkembang tanpa kehilangan nilai budaya yang dimilikinya.