Teluk Gilimanuk adalah salah satu wisata yang berada di Bali dan ramai didatangi oleh para wisatawan, baik pada hari biasa atau liburan. Destinasi teluk ini menyajikan pemandangan cukup indah dan memberikan sensasi berbeda saat sore hari.
Untuk itulah, selain Air Terjun Juwuk Manis, destinasi wisata teluk tersebut sangat sayang jika dilewatkan saat Anda berada di Jembrana, Bali. Apalagi suasana alam yang dihadirkan masih sejuk dan cocok dijadikan sebagai tempat untuk refreshing.
Sudah tidak dipungkiri lagi jika teluk ini menawarkan pesona keindahan alamnya yang mampu memanjakan mata dan membuat para pengunjung betah berlama-lama berada di tempat ini.
Tidak hanya menyajikan pemandangan alam yang indah saja, di tempat ini juga memiliki daya tarik lainnya. Adapun daya tarik Teluk Gilimanuk antara lain sebagai berikut:
Di Teluk Gilimanuk, terdapat hamparan pulau kecil yang menjadi daya tarik utama dari teluk ini. Pulau kecil yang tidak berpenghuni tersebut juga ditumbuhi oleh hutan mangrove yang membuat suasana semakin sejuk.
Apalagi, di tempat wisata teluk ini juga disediakan speed boat yang bisa digunakan pengunjung untuk mengelilingi hutan mangrove. Selain itu, pengunjung juga dapat menyaksikan puluhan kapal laut yang menyeberangi selat Bali.
Tak hanya menjelajahi hutan mangrove saja, pengunjung juga bisa menjelajahi Pulau Gadung, Pulau Kalong, hingga Pulau Burung dengan seru.
Tidak sampai di situ, bagi Anda yang suka foto-foto untuk mengabadikan momen, di teluk ini banyak sekali spot foto yang bisa ditemukan. Mulai dari latar belakang foto teluk hingga pepohonan rindang di hutan mangrove bisa menghasilkan foto yang instagramable.
Pengunjung juga bisa melakukan aktivitas diving di teluk tersebut untuk menikmati pemandangan satwa bawah laut. Saat melakukan diving ini, pengunjung akan menemukan beraneka jenis ikan yang tampak bervariasi dan unik.
Di teluk ini memiliki taman cantik setinggi 10 meter yaitu Taman Siwa Mahadewa. Taman inilah yang menjadi ikon destinasi wisata teluk ini. Taman yang terlihat cantik dan indah serta dilengkapi dengan gazebo-gazebo untuk tempat bersantai.
Lokasi Teluk Gilimanuk berada di Kelurahan Gilimanuk, Kec. Melaya, Jembrana, Bali. Untuk menuju ke sana sebenarnya rute nya cukup mudah dan bisa ditemukan melalui Google Maps.
Disarankan saat menuju ke sana lebih baik menggunakan kendaraan pribadi, seperti motor atau mobil. Sebab, dengan menggunakan kendaraan pribadi Anda bisa menikmati pemandangan alam selama di perjalanan dengan lebih menyenangkan.
Jika menggunakan kendaraan umum juga bisa saja, tetapi Anda tidak bisa leluasa dalam menikmati pemandangan di sepanjang jalan menuju teluk tersebut. Untuk alternatif lain, Anda bisa menggunakan sewa mobil di Bali yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan.
Seperti tempat wisata pada umumnya, teluk ini juga mempunyai fasilitas yang memadai untuk para pengunjungnya. Adapun fasilitas Teluk Gilimanuk Bali adalah sebagai berikut:
Untuk masuk ke destinasi wisata ini, para pengunjungnya tidak dikenakan tiket masuk Teluk dan hanya dikenakan biaya parkir kendaraan serta penyewaan yang disediakan, seperti speed boat atau peralatan diving. Sehingga, destinasi wisata ini menjadi salah satu opsi yang tepat untuk tempat liburan murah dan menyenangkan.
Bahkan di teluk ini seringkali diadakan lomba sampan atau perahu yang cukup menarik perhatian para pengunjung. Tempat ini juga terus dibenahi dan ditata yang menjadikan Teluk Gilimanuk menjadi destinasi wisata favorit di Bali. Anda bisa berkunjung dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun sewa mobil di Bali.
Vihara Dharma Giri adalah salah satu Vihara bersejarah yang ada di Bali. Di Vihara ini banyak digunakan sebagai tempat melakukan kegiatan keagamaan oleh umat Buddha dan wisata religi.
Tempat ibadah umat Buddha ini mempunyai beberapa keunikan yang menjadikannya terkenal di kalangan warga lokal hingga pelancong. Bagi umat Buddha yang ingin melakukan wisata religi, Vihara ini bisa dijadikan opsi untuk dikunjungi saat berada di Bali.
Lokasi Vihara Dharma Giri berada di Jalan Raya Pupuan, Kec. Pupuan, Kab. Tabanan, Bali. Pada mulanya, Vihara ini bukanlah dijadikan sebagai tempat wisata wisata religi seperti sekarang.
Awalnya Vihara ini murni dibangun dengan tujuan sebagai tempat beribadah umat Buddha untuk warga Bali dan sekitarnya. Di samping itu, Vihara ini juga dijadikan sebagai tempat praktik dhamma, meditasi, hingga latihan atthasilani.
Latihan atthasilani adalah disiplin moral yang dianjurkan oleh sang Buddha. Pada bagian lantai dua Vihara ini terdapat tempat istirahat yang diperuntukkan bagi para umat Buddha yang mengikuti latihan meditasi.
Bermula dari Vihara Dharma Giri yang dulunya hanya dijadikan sebagai tempat beribadah umat Buddha, kini menjadi sebuah destinasi wisata religi di Bali. Hal ini tidak terlepas dari adanya daya tarik dari Vihara tersebut.
Daya tarik inilah yang menjadikan para wisatawan tertarik untuk mengunjungi Vihara dan menjadikannya sebagai tempat wisata religi. Adapun daya tarik Vihara Dharma Giri Bali diantaranya adalah sebagai berikut:
Pada umumnya, Vihara ini mempunyai daya tarik khusus bagi para pengunjung, yaitu adanya patung Buddha tidur. Patung Buddha tidur raksasa ini adalah satu-satunya patung terbesar yang ada di Bali. Adapun panjang patung Buddha tidur sekitar 15 meter dengan tinggi 3 meter.
Patung tersebut menggambarkan Buddha yang sedang tidur dengan menyangga kepalanya di satu tangan. Patung raksasa di Vihara Dharma ini dibuat oleh perajin asal Klungkung dan kini digunakan sebagai simbol ketenangan dan kedamaian bagi para pengunjungnya.
Namun, saat ingin memasuki pelataran patung Buddha tidur, para pengunjung harus mematuhi aturan yang berlaku dan tidak boleh sembarang masuk. Sebab, patung tersebut masih berada di sekitar Dharamsala, maka terdapat etika saat berkunjung ke sana.
Diantaranya, pengunjung yang tidak diperkenankan memakai celana pendek, melepas alas kaki saat masuk pelataran, dan beberapa aturan lainnya yang harus dipatuhi.
Tidak hanya memiliki patung Buddha tidur saja, di Vihara ini juga terdapat Tugu Raja Ashoka yang telah selesai di bangun sekitar tahun 2007.
Keberadaan Tugu Raja Ashoka ini dijadikan sebagai ikon utama Vihara serta dilengkapi dengan prasasti yang berisikan tentang pesan keagamaan.
Selain adanya patung Buddha tidur dan Tugu Raja Ashoka, di Vihara ini juga terdapat beberapa bangunan menarik lainnya yang bisa dikunjungi oleh para wisatawan di Bali.
Adapun bangunan lain yang dimaksudkan ini, seperti altar lonceng, klenteng, pagoda, dan stupa. Bangunan-bangunan yang ada di Vihara tersebut digunakan sebagai tempat beribadah dan meditasi bagi para umat Buddha.
Tidak hanya itu, bangunan-bangunan tersebut juga mempunyai arsitektur yang mendetail dan indah. Apalagi ditambah dengan kondisi alam yang masih asri dan sejuk, menjadikan para wisatawan betah berlama-lama berada di sekitar kawasan Vihara ini.
Bagi siapa saja yang ingin melihat keunikan bangunan-bangunan Vihara di Bali, maka Vihara Dharma Giri menjadi salah satu opsi yang dapat dikunjungi saat berada di Bali. Jadi sekarang ketika kamu ke Bali jangan lupa untuk mencari rental mobil di Bali melalui website Putri Bali Rental.
Bali merupakan salah satu pulau yang dikenal memiliki keindahan alam dan situs religi. Salah satu dari situs religi yang sangat unik di Bali, yakni Pura Luhur Rambut Siwi. Tempat suci tersebut sangat mencerminkan kekayaan budaya spiritual yang sangat khas.
Pura tersebut memiliki sejarah singkat Pura Rambut Siwi juga menjadi daya tariknya. Pura Luhur ini bisa menjadi salah satu alternatif pilihan destinasi wisata di Kabupaten Jembrana. Penasaran bagaimana sejarah dan di mana letak pura ini? Yuk simak di bawah ini!
Di balik pura tersebut, terdapat sejarah yang melibatkan budaya-budaya di Bali. Walau tidak ada catatan yang pasti mengenai sejarah tersebut. Namun, cerita tentang pura ini sudah ada dan diceritakan secara turun-temurun.
Menurut cerita legenda dari cerita rakyat Bali, pada abad ke-15 M ada seseorang Brahmana Suci. Brahmana suci tersebut bernama Danghyang Dwijendra atau masyarakat mengenal Danghyang Nirartha. Brahmana tersebut melakukan perjalanan spiritual di Bali.
Dalam agama Hindu, Danghyang Nirartha merupakan salah satu tokoh suci yang telah melakukan perjalanan spiritual di Bali. Danghyang Nirartha juga meninggalkan warisan spiritual di Bali. Di Bali diyakini ditemukan sehelai rambut Dewi Durga jatuh ke laut.
Diyakini pada cerita tersebut, ditemukannya rambut suci Dewi Durga berada di pantai barat Bali. Kemudian, hal ini diyakini sebagai tanda hadirnya serta berkat dari Dewi Durga. Karena hal tersebut, Danghyang Nirartha memutuskan mendirikan pura untuk dewa yang dipuja.
Pura tersebut didirikan untuk menghormati Dewi Durga serta sebagai tempat penyimpanan rambut suci tersebut. Pura tersebut dibangun tepat di tempat ditemukannya rambut suci tersebut. Awalnya sederhana kemudian diperluas dengan memberi keunikan arsitektur Bali.
Pura Rambut Siwi terletak di Bali, tepatnya ada di Desa Yeh Embang daerah pesisir pantai barat Daya Bali. Pura tersebut masih terletak di kabupaten Jembrana Bali dan dekat dengan Denpasar. Dari Denpasar hanya sekitar 90 kilometer arah barat Denpasar.
Untuk menuju Pura Rambut Siwi ini, Anda bisa menggunakan kendaraan pribadi atau menyewa mobil di Bali. Selain itu, pura ini dapat dikunjungi dengan menaiki transportasi umum juga. Tentunya akan lebih murah bila menaiki kendaraan pribadi.
Pura Rambut Siwi memiliki 8 pura yang mana letak pura ini berada di pesisir pantai.
Seperti yang telah diketahui bahwa Pura Luhur Rambut Siwi ini berada di Desa Yeh Embang dan dekat dengan Denpasar. Untuk itu, pura tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi atau transportasi umum. Ada rute yang bisa dipilih untuk menuju pura.
Bagi Anda yang menggunakan kendaraan pribadi, maka pilih rute mengikuti jalan raya menuju Gilimanuk. Rute ini adalah rute termudah karena pura tersebut letaknya 10 kilometer sebelum pelabuhan Gilimanuk. Sebelum berkunjung harus melihat waktu kunjungan dahulu.
Walau memang pura ini dapat dikunjungi dalam sepanjang tahun, tapi perlu pahami juga waktu kunjungnya. Waktu paling baik untuk berkunjung saat selama musim kemarau, yakni pada bulan April sampai Oktober. Dan, perhatikan hari libur keagamaan.
Memperhatikan waktu dan hari libur keagamaan salah satu bentuk menghargai budaya Pura Rambut Siwi. Karena sebagai pendatang tidak mungkin langsung bertindak sembarangan.
Pura Luhur Rambut Siwi merupakan salah satu situs religi yang berada di Kabupaten Jembrana. Pura tersebut bukan hanya sebagai situs religi, tapi juga destinasi wisata yang memiliki keindahan alamnya. Sebelum datang, perhatikan waktu dan hari libur keagamaan. Untuk bisa mengunjungi tempat ini, Anda bisa menyewa mobil yang ada di bali. Harga sewa mobil di Bali pun bervariasi. Anda bisa memilihnya sesuai dengan budget yang dimiliki.ย
Salah satu tempat di Bali yang memikat hati para wisatawan adalah Pura Pulaki. Yakni sebuah tempat suci yang merangkul pesona laut dan kehidupan spiritual Hindu. Pura ini terletak di utara Pulau Dewata. Simak mitos serta legenda menariknya disini!
Terdapat beberapa mitos dan legenda yang diceritakan secara turun temurun, berikut penjelasannya!
Salah satu cerita populer tentang Pura Pulaki adalah adanya kera suci di sekitarnya, dianggap sebagai penjaga dan pelindung pura. Dipercayai bahwa kera-kera ini memiliki hubungan spiritual dan dianggap sebagai manifestasi roh yang sakral.
Selanjutnya, terkait dengan legenda Sri Patni Kaniten, istri Danghyang Nirartha. Dikatakan bahwa Sri Patni Kaniten berasal dari Blambangan dan turut serta dalam perjalanan spiritual Danghyang Nirartha menuju Bali. Pura ini dianggap sebagai tempat penghormatan arwahnya.
Di area ini, ditemukan alat-alat dari zaman prasejarah, seperti batu berbentuk kapak dan batu picisan. Keberadaan batu-batu prasejarah ini menciptakan misteri dan menarik minat peneliti dan arkeolog untuk menyelidiki sejarah pura ini lebih lanjut.
Terdapat mitos bahwa sumber mata air tawar di teluk Pulaki telah ada selama berabad-abad. Beberapa meyakini bahwa air ini memiliki kekuatan suci dan mampu memberikan berkah serta kesembuhan bagi yang meminumnya.
Pura Melanting yang berdekatan juga memiliki kisah dan legenda sendiri. Pura ini konon berfungsi sebagai pasar tradisional bagi penduduk setempat. Legenda ini menambah daya tarik dan keunikan kawasan ini.
Alamat lengkap Objek Wisata Pura Pulaki di Gerokgak, Buleleng, Bali: Jl. Singaraja-Gilimanuk, Banyupoh, Kec. Gerokgak, Kabupaten Buleleng, Bali 81155.
Pura Pulaki di Gerokgak, Buleleng, Bali umumnya tidak mengenakan biaya untuk tiket masuk. Sebagai tempat ibadah dan keramat bagi umat Hindu, kebanyakan pengunjung tidak perlu membayar untuk mengakses pura ini.
Meskipun begitu, sebagai bentuk penghormatan, pengunjung diharapkan mematuhi aturan dan etika pura. Selain itu, apabila Anda ingin memberikan sumbangan atau donasi untuk pemeliharaan pura, terdapat kotak donasi di sekitar area pura sebagai opsi.
Fasilitas di Pura Pulaki di Gerokgak, Buleleng, Bali mencakup berbagai layanan untuk kenyamanan pengunjung. Berikut beberapa fasilitas yang tersedia!
Terdapat area parkir yang luas untuk kendaraan pengunjung, memungkinkan Anda dengan nyaman memarkir mobil atau sepeda motor saat mengunjungi tempat ini.
Pura ini juga merupakan tempat ibadah umat Hindu. Sehingga pengunjung dapat mengikuti persembahyangan dan upacara keagamaan yang diadakan di pura ini.
Fasilitas kamar mandi dan tempat mencuci diri disediakan untuk menjaga kebersihan dan kenyamanan pengunjung selama berada di tempat wisata ini.
Area pura juga menyediakan tempat istirahat bagi pengunjung yang ingin beristirahat sejenak atau menikmati suasana sekitar.
Terdapat warung jualan yang menyediakan makanan dan minuman ringan, memungkinkan pengunjung membeli camilan atau minuman segar selama berada di sini.
Bagi yang ingin menginap lebih lama, terdapat penginapan di sekitar area. Anda dapat mencari akomodasi sesuai dengan kebutuhan Anda di sekitar lokasi wisata ini.
Pura Pulaki memancarkan keunikan dan keagungan yang memikat hati. Dengan mengunjunginya, setiap pelancong diundang untuk meresapi harmoni antara spiritualitas dan keindahan alam yang menjadi ciri khas pulau Bali. Sebagai bahan pertimbangan untuk menghemat liburan anda dapat menggunakan sewa mobil lepas kunci karena harganya lebih murah dibandingkan dengan sopir dan pilihkan Putri Bali Rental sebagai penyedia yang terpercaya ketika di Bali.
Pura Bakungan diyakini berkaitan erat dengan keberadaan Pura Agung Pecangakan yang berlokasi di Dauhwaru. Keberadaan Candi Bakungan yang terbuat dari bata merah ini juga dipercaya masyarakat sebagai peninggalan zaman Majapahit.
Susunan bata merah di Candi Bakungan ini bentuknya menyerupai candi-candi yang berada di Pulau Jawa. Selain itu, bangunan candi ini terdiri atas bagian kaki candi, badan, dan atap (lapik).
Dari Kutipan Babad Dinasti Ki Ageng Malele Cengkrong diceritakan, pada tahun 1400 M kekuasaan atas daerah Jembrana dilanjutkan oleh keturunan Raja Bakungan. Keturunan yang dimaksud adalah Ki Ageng Cengkrong, Ki Ageng Mekel Bang, dan Ki Ageng Malele Bang.
Lalu, Ki Ageng Mekel Bang mendirikan puri di sebelah timur kerajaan Bakungan yang dinamai Kerajaan Pecangakan. Nama tersebut dipilih karena di daerah tersebut masih dataran rendah yang banyak burung cangak.
Kemudian, Ki Ageng Mekel Bang diberi gelar I Gusti Ngurah Gde Pencangakan oleh penguasa yang berpusat di Samprangan, yaitu Sri Kresna Kepakisan. I Gusti Ngurah Gde Pencangakan lalu memerintah bersama Manca Agung yang bernama Ki Ageng Malele Bang.
Di suatu waktu, I Gusti Ngurah Gde Pecangakan dianugerahi seekor kuda putih oleh Sri Bima Cili yang masih tergolong kerabatnya. Kuda putih tersebut diberi nama Jaran Bana Rana.
Filosofi nama kuda tersebut dipilih karena mengingat Kerajaan Pecangakan yang jauh terletak di sebelah timur Kerajaan Bakungan. Berkat kerja keras dari Kerajaan Pancang Akan, membuat negeri tersebut menjadi aman, makmur, dan sentosa.
Lokasi Pura Bakungan berada di Dusun Paginuman, Kelurahan Gilimanuk, Kec. Melaya, Jembrana, Bali. Biasanya pura ini digunakan sebagai tempat sembahyang para warga lokal atau pelancong.
Di sisi lain, pura ini masih berkaitan dengan sejarah Majapahit yang masih diingat sampai sekarang. Untuk mengetahui lebih dalam mengenai salah satu jenis pura Bali ini, berikut adalah penjelasannya:
Pada dasarnya, keberadaan Candi Bakungan ini sangat erat kaitannya dengan masuknya Mpu Kuturan ke Bali pada abad ke-9. Hal ini terbukti dengan adanya Lingga-Siwa Buddha yang pada saat itu ditemukan di lokasi peninggalan zaman Majapahit.
Keberadaan Candi Bakungan ini juga telah masuk sebagai cagar budaya nasional sesuai dengan Undang-Undang RI No. 5 Tahun 1992 Provinsi Bali, NTB, NTT.
Selain itu, kawasan Candi Bakungan juga termasuk kawasan suci sesuai dengan SK Bupati Jembrana No 373/Sosbud/2005.
Ketika memasuki bagian dalam pura ini, terdapat Candi setinggi 5 meter. Bangunan candi ini adalah bangunan awal atau bangunan pokok yang dikenal dengan nama Candi Bakungan.
Di sisi utara areal Pura Bakungan ini terdapat adanya Pelinggih Taman dn Pelinggih Ulun Danu Tirta. Di lokasi inilah dipercaya oleh masyarakat sebagai tempat Payogan Dalem Siwa Buddha Narayana.
Biasanya Pemedek yang datang ke tempat ini untuk sembahyang juga melakukan ritual panglukatan dengan sarana banten daksina dan klungah. Pemedek adalah orang yang melakukan usaha pendekatan pada Tuhan melalui rangkaian upacara agama.
Di sisi barat Pura, terdapat pohon beringin besar dan di bawahnya terdapat pelinggih yang isinya patung kijang dan seekor kuda putih. Sesuai dengan pernyataan juru sapuh Pura Bakungan, pelinggih tersebut sebagai penghormatan kepada Patih Ki Jaya Kusuma yang gugur dalam perang mempertahankan Kerajaan Bakungan. Agar liburan anda tidak melelahkan kami sarankan menggunakan sewa mobil dengan sopir yang menemani perjalanan anda ketika di Bali, dengan penyedia sewa mobil di Putri Bali Rental.
Desa Palasari Bali adalah salah satu desa yang letaknya tepat di Kabupaten Negara dan memiliki jarak tempuh sekitar 25 menit dari pelabuhan Gilimanuk. Di sepanjang jalan menuju desa ini terdapat hutan menjadikan suasana sejuk dan tenang.
Di Desa Palasari, banyak kegiatan rohani yang dapat dilakukan, baik dalam skala daerah maupun nasional. Penduduk asli desa ini menganut agama Katolik. Meski demikian. di desa ini terdapat dua objek wisata rohani yang bisa dikunjungi di Bali Barat.
Penduduk asli Desa Palasari yang menganut agama Katolik masih menggunakan tradisi Bali saat melakukan upacara keagamaannya. Di samping itu, di desa ini terdapat Gereja Hati Kudus Yesus dan Gua Maria yang bisa dikunjungi.
Kedua objek wisata rohani Palasari Bali itu tentu memilih sejarahnya masing-masing. Adapun penjelasannya sebagai berikut:
Sejarah Gereja Palasari ini bermula sekitar tahun 1940-an. Pater Simon Buis, SVD, dan puluhan kepala keluarga yang berasal dari Gumbrih dan Tuka membuka hutan pala di suatu lokasi yang dekat dengan bukit.
Hutan yang dibuka oleh mereka diberi nama Palasari. Di tempat itu Pater Simon Buis membangun desa โModel Dorfโ, yaitu desa yang berbudaya bali tetapi tetap mempunyai nuansa Katolik.
Lalu, pada tahun 1955 bukit yang ada di sebelah timur Gereja sementara diratakan dan dibangun Gereja. Gereja Palasari mulai diresmikan pada 15 September 1940 oleh Pastor Simon Bois. Beliau pula yang mengenalkan agama Katolik pertama kali di Desa Palasari Bali.
Gereja Hati Kudus Yesus Palasari memiliki arsitektur yang kental dengan unsur Bali. Keunikan dari Gereja ini adalah bangunannya yang memadukan arsitektur gotik dengan Bali.
Meski Gereja ini sudah terbilang tua, tetapi kondisi dan keadaan gedungnya masih terlihat kokoh dan modern. Apalagi di dalam Gereja terdapat patung tabernakel, 14 ukiran jalan salib, altar, dan salib semuanya tersentuh budaya Bali.
Pada pintu masuk halamannya terdapat gapura yang bentuknya sama seperti Pura pada umumnya. Di halaman Gereja ini juga banyak ditumbuhi oleh pohon cemara dan beberapa pembatas halaman gedung yang memiliki ukir-ukiran Bali.
Saat baru masuk di dalam Gereja, pengunjung akan disuguhi oleh foto-foto lawas yang menggambarkan tentang sejarah pembangunan Gereja Palasari. Foto yang dipajang seperti foto lawas romo-romo Eropa yang memulai karir misi di daerah Palasari.
Gua Maria Palasari (Palinggih Ida Kaniaka Maria) pertama kali dibangun pada tahun 1962 di Banjar Palasari, Bali. Pada saat itu, lokasinya bersebelahan dengan Kepala Susteran OSF Palasari. Lalu, terdapat beberapa pertimbangan yang membuat lokasinya dipindahkan ke Monumen Pastor Simon Buis pada tahun 1983.
Istilah Palinggih Ida Kaniaka Maria diartikan sebagai tempat suci bagi Bunda Maria. Gua ini adalah sarana untuk memanjatkan doa kepada Bapa di Surga. Lokasi Gua Maria Palasari berada di Palasari, Ds. Ekasari, Kec. Melaya, Kab. Jembrana, Bali Barat.
Tepatnya pada tahun 2000, Palinggih Ida Kaniaka Maria atau Gua Maria Palasari ini mulai banyak dikunjungi oleh peziarah, baik dari lokal, mancanegara, dan domestik. Bukan umat Katolik saja, melainkan dikunjungi oleh semua umat tanpa memandang agama.
Hal tersebut menyebabkan Pastor Paroki merasa terpanggil untuk merenovasi atau pemugaran Gua Maria. Di sepanjang jalan menuju tempat ziarah Gua Maria Palinggih Ida Kaniaka Maria di Desa Palasari Bali ini terdapat pemandangan yang masih asri dan sejuk. Liburan anda akan lebih hemat jika mempertimbangkan sewa mobil lepas kunci, anda dapat mengendarai mobil lebih leluasa dan lebih nyaman.