putri bali rental mobil di bali

Tiap tahunnya umat Hindu di Bali merayakan Hari Raya Nyepi. Hari tersebut menjadi momen sakral untuk muhasabah diri dan penyucian semesta. Dan, inti dari perayaan Nyepi ada pada Catur Brata Penyepian. 

Hal ini mengajarkan umat manusia untuk berhenti sejenak dari segala keributan, menenangkan pikiran, dan kembali menyeimbangkan diri dengan alam. Namun, di tengah adanya modernisasi ini apakah masih diterapkan dengan baik?

4 Bagian dalam Catur Brata Penyepian

Inti dari pelaksanaan hari raya Nyepi ada pada Catur Brata yang terdiri dalam 4 bentuk pengendalian diri. Semua bentuknya mengajarkan umat Hindu untuk mengendalikan diri, menenangkan pikiran, dan menyucikan diri dengan 4 bagian berikut!

1. Amati Geni

Tujuan Catur Brata mengajarkan manusia untuk berhenti sejenak menahan diri dari hawa nafsu duniawi. Hal ini tercerminkan dalam bagiannya, yakni Amati Geni yang menandakan api atau cahaya.

Dalam praktiknya, Amati Geni ini juga bermakna sebagai puasa mengendalikan diri dari makan dan minum. Melalui ini, manusia mematikan api yang berarti sebagai keinginan dari dalam diri yang ada pada perut dan juga hawa nafsu. 

2. Amati Geni

Setelah, puasa Catur Brata umat Hindu di Bali juga tidak boleh melakukan aktivitas atau kegiatan duniawi atau Amati Karya. Hal ini bertujuan untuk menurunkan ego manusia yang sering haus akan terus menghasilkan sesuatu. 

Amati Karya juga memberikan ruang bagi alam untuk istirahat sejenak hingga tercipta keharmonisan. Pada bagian ini, manusia dituntun untuk memahami bahwa hidup bukan untuk terus memaksakan keinginan tapi memenuhi kebutuhan.

3. Amati Lelungan

Tahapan dalam Catur Brata berikutnya, yakni Amati Lelungan yang berarti tidak melakukan perjalanan ke mana pun. Bila manusia biasanya terus ingin melangkah, waktu justru meminta mereka untuk diam sejenak. 

Fase ini, menjadi langkah awal mengajak manusia untuk menyelami isi hati. Di tengah henging inilah, pemahaman tentang hidup mulai tumbuh perlahan. Tidak lama kemudian, pola pikir akan memberi celah menemukan jati diri sejatinya.  

4. Amati Lelanguan

Fase Amati Lelanguan ini, manusia harus menjauhi tontonan atau suara yang kerap kali menarik perhatian. Jadi, masyarakat Hindu berhenti mengumbar kesenangan atau berhura-hura untuk sementara waktu.

Melalui bagian ini, manusia benar-benar diajak untuk merasakan murninya spiritual dengan menjauh dari godaan duniawi. Di antara suasana sunyi dan sederhana, jiwa jadi lebih peka sehingga mampu merasakan keharmonisan dengan Sang Pencipta.

Catur Brata Penyepian Masih Relevan di Era Modern?

Tradisi di hari raya Nyepi sangatlah kental, dan seluruhnya dijalankan sesuai yang telah ditentukan. Suasananya sangat terasa di seluruh pelosok Bali, tapi di era modern ini rasa tersebut mulai perlahan hilang. 

Lalu, apakah tradisi ini masih relevan dilakukan di era modern ini? Meski mendapatkan banyak sekali tantangan, tapi tidak sedikit masyarakat Hindu di Bali yang menjaga tradisi ini. Kesadaran masyarakat untuk terus melaksanakan tradisi ini sangat berpengaruh.

Catur Brata Penyepian masih relevan untuk dilakukan, tergantung pada keputusan dan kesadaran masyarakatnya. Walaupun banyak sekali tantangan yang membuat tradisi ini kurang terasa sakral, tapi tradisi ini masih harus terus dilaksanakan. 

Penutup

Tradisi Catur Brata Penyepian yang merupakan bagian inti dari perayaan hari raya Nyepi. Bagi Anda yang ingin merasakan bagaimana tradisi ini? Jangan lupa untuk menggunakan layanan paket perjalanan dari Putri Rental Bali

Otonan Bali merupakan perayaan setiap 210 hari untuk memperingati hari lahir menurut kepercayaan Hindu di Bali. Waktu pelaksanaan tradisi ini berpatokan pada kalender Saka-Bali yang dihitung berdasarkan Saptawara, Pancawara, dan Wuku. 

Otonan Akan dilaksanakan dengan serangkaian ritual dan persembahan yang memiliki makna dan filosofi. Untuk mengenal lebih dalam tentang otonan di Bali, yuk simak!

Mengenal Otonan Bali

Otonan Bali adalah peringatan hari lahir menurut Hindu di Bali yang perayaannya setiap 6 bulan sekali. Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno โ€˜wetuโ€™ atau โ€˜metuโ€™ yang artinya keluar, lahir, atau menjelma. 

Dari kata โ€˜wetuโ€™ menjadi โ€˜wetonโ€™ dan kemudian menjadi kata โ€˜otonโ€™ atau โ€˜otonanโ€™. Tradisi ini secara umum bertujuan untuk membersihkan seseorang dari mala. Mala adalah sesuatu yang membawa kesengsaraan, rugi, atau celaka. 

Saat hari tradisi otonan tiba, maka pada saat itu akan memanjatkan puja kepada Sanghyang Widhi karena atas perkenan-Nya roh/atma bisa menjelma menjadi manusia. Kemudian juga memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam menempuh kehidupan. 

Jadi secara garis besar otonan merupakan bentuk tradisi atau upacara untuk membersihkan atau menyucikan individu dari segala mala sejak dari dalam kandungan Ibu. 

Prosesi Otonan di Bali

Pelaksanaan otonan terdiri dari beberapa rangkaian prosesi. Tapi sebelum masuk ke prosesinya, sang Ibu dan Anak yang akan diotonkan harus lebih dulu melakukan ngayab dan menghaturkan segehan untuk memohon agar prosesi otonan Bali bisa berjalan lancar. Kemudian, masuk ke tahap prosesi seperti:

1. Mesapuh-sapuh

Mesapuh-sapuh adalah prosesi awal dengan mengusap telapak tangan kanan anak dengan Buu sembari mengucapkan mantra otonan Bali. Mantra yang diucapkan berbunyi โ€Nah cening jani mesapuh-sapuh, apang ilang dakin liman ceninge, apang kedas liman cening ngisiang uripโ€.

2. Metepungtawar

Prosesi kedua ini sang Ibu akan mengoleskan daun dadap pada kedua tangan anak dengan mengucapkan mantra โ€œJani cening masegau, suba leh liman ceninge. Melah-melah ngembel rahayuโ€

Kemudian lanjut memercikkan tirta panglukatan. Tujuannya untuk mensucikan kembali Sang Hyang Atma.

3. Matetebus

Dalam prosesi metetebus ini akan menggunakan sarana benang putih. Sang Ibu akan mengambil 2 helai benang putih dan diletakkan di kepala atau telinga anak dan satunya lagi di pergelangan tangan anak. 

Saat prosesi ini Ibu akan mengucapkan โ€œJani cening magelang benang, apang cening mauwat kawat mabalung besiโ€. Kemudian, lanjut dengan memercikkan Tirta Hyang Guru. Tujuannya untuk memohon kesehatan lahir batin anak dan memohon perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

4. Ngayab Sesayut

Terakhir adalah prosesi Ngayab Sesayut. Ibu akan memutar anak searah jarum jam sambil mengucapkan โ€œJani cening ngilehang sampan, ngilehan perahu, batu mokocok, tunked bungbungan, teked di pasisi napetang perahu bencahโ€.

Tujuannya agar sang Anak bisa teguh pendirian dan dan memiliki kepribadian stabil saat menjalani kehidupannya.

Penutup

Setiap prosesi otonan tentu memiliki makna dan filosofi tersendiri. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak boleh keliru dalam menetapkan hari otonan untuk si anak. 

Sebab dalam lontar pawacakan dan lontar jyotisha, apabila keliru menetapkan otonan anak, maka akan mengalami hal-hal yang tidak di inginkan. Jika untuk bayi, otonan pertama kali ketika sudah berumur 105 hari karena semua panca indranya sudah aktif.

Nah, bagi Anda yang tertarik untuk melihat prosesi otonan ini, maka bisa langsung datang saat hari otonan tiba. Untuk mengantarkan Anda melihat prosesi otonan Bali, Anda bisa gunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.

Pitra Yadnya masuk dalam bagian Panca Yadnya, yaitu 5 jenis pengorbanan yang wajib dilakukan dan dipercaya oleh umat Hindu di Bali. Selain Pitra, lima bagian lain dari Panca Yadnya, yaitu Dewa Yadnya, RSI Yadnya, Manusa Yadnya, dan Bhuta Yadnya. 

Pitra Yadnya merujuk pada istilah persembahan kepada roh leluhur yang telah meninggal. Upacara ngaben adalah salah satu yang paling familiar dan masuk dalam bagian Yadnya ini. Bagi Anda yang ingin tahu lebih lanjut seputar Yadnya ini, yuk simak!

Tentang Pitra Yadnya

Pitra Yadnya adalah pengorbanan yang berlandaskan hati yang tulus dan ikhlas suci. Pengorbanan ini khususnya kepada orang tua, leluhur, atau orang yang sudah meninggal. Upacara Pitra adalah upacara pengembalian jasad atau raga manusia kepada asalnya.

Asal yang dimaksud ini adalah alam pitara atau alam leluhur yang identik dengan istilah dekat dengan Tuhan. Jadi, dalam pandangan masyarakat Hindu Bali, pelaksanaan upacara ini jadi bagian terakhir dari siklus perjalanan umat manusia di Bumi. 

Secara garis besar, ada 2 rangkaian upacara Pitra, yaitu:

1. Ngaben

Ngaben adalah upacara untuk mengembalikan jasad manusia menuju alam semesta. Bahasa kasarnya, ngaben adalah upacara pembakaran mayat dengan menggunakan 2 api, yaitu api konkret dan api abstrak. 

Upacara ngaben tidak hanya akan mengabukan tubuh kasar saja, melainkan juga menyucikan dan mengembalikan 5 elemen pembentuk stula sarira atau panca maha bhuta. Ketika tubuh kasar sudah kembali ke panca maha bhuta, maka tubuh halus akan menuju ke alam tengah atau pitara loka.  

Ngaben jika berdasarkan keadaan layon (jenazah) terdiri atas 3 jenis, yaitu:

2. Memukur

Memukur adalah upacara tahap kedua setelah ngaben. Upacara memukur adalah proses untuk mengantarkan arwah untuk mencapai kesucian sampai tingkat dewa pitara. Ketika tubuh kasar sudah kembali ke panca maha bhuta dan tubuh halus menuju ke pitara loka, maka capaian tersebut belum tuntas.

Perjalanan tersebut belum tuntas karena masih ada alam roh yang lebih mulia, yaitu swah loka, yadnya loka atau alam atas. Dalam rangka melanjutkan perjalanan tersebut, maka upacara ngaben harus dilanjutkan dengan upacara memukur. 

Bagi umat Hindu, pelaksanaan upacara memukur tidak harus cepat berlangsung setelah ngaben, melainkan bisa menunggu 12 hari atau pada hari tertentu. Upacara ini akan melibatkan berbagai tahapan, seperti:

Dalam pelaksanaan ini penting dalam budaya Bali. Masyarakat Bali percaya bahwa upacara ini bisa membantu roh leluhur mencapai alam kebahagiaan yang lebih tinggi.

Penutup

Setelah tahu Pitra Yadnya itu apa dan apa saja rangkaian upacaranya, maka bisa turut menghormati budaya masyarakat Hindu di Bali yang masih lestari sampai sekarang. Selain itu, ada banyak upacara keagamaan lainnya dengan tujuan yang berbeda-beda.ย 

Jika ingin melihat langsung upacara adat yang pelaksanaannya terbuka, maka bisa liburan ke Bali pada waktu-waktu tertentu. Kemudian, jika ingin menuju ke tempat upacara Pitra Yadnya atau upacara lainnya, maka bisa gunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.

Siat Sampian merupakan tradisi unik dan sakral yang dilaksanakan 3 hari setelah Puncak Karya Pujawali. Tradisi ini digelar setiap 1 tahun sekali di Pura Samuan Tiga, Ds. Bedulu, Kec. Blahbatuh, Kab. Gianyar, Bali. 

Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai dalam kehidupan manusia dan menyimpan makna tersendiri. Bagi Anda yang ingin tahu lebih dalam mengenai tradisi Siat Sampian ini, simak informasi lengkapnya berikut!

Apa Itu Tradisi Siat Sampian?

Siat Sampian adalah tradisi pertunjukan perang-perangan yang sarana upacaranya terbuat dari rangkaian sampian (janur). Rangkaian janur/sampian ini jadi simbolis dari bentuk padma atau cakra. 

Dalam pelaksanaannya, tradisi ini terdiri atas ยฑ70 orang permas dan ยฑ400 orang parekan. Pelaksanaan tradisi ini tidak boleh dilakukan oleh orang sembarangan, melainkan akan dipilih melalui upacara atau ritual mapekeling dan pawintenan.  

Prosesi Tradisi Siat Sampian

Dalam sejarah Siat Sampian, masyarakat percaya bahwa tradisi ini bisa menyucikan diri dan lingkungan sekitar dari pengaruh negatif. Pelaksanaan tradisi ini mengandung ajaran tentang warisan kesucian sejak masa raja-raja Bali Kuno. 

Sehingga, dalam proses pelaksanaan tradisi ini memiliki serangkaian upacara dan gerakan yang harus diikuti oleh para pesertanya. Adapun prosesi tradisi ini adalah sebagai berikut:

1. Persembahyangan ke Pelinggih-Pelinggih

Prosesi awal tradisi ini adalah Permas yang melakukan persembahyangan ke pelinggih Ratu Agung Panji, Ratu Agung Sakti, Pengaruman Agung, dan Pamiakala. Kemudian, permas akan lanjut untuk melakukan gerakan tarian Nampiog. 

2. Gerakan Tarian Nampiog

Pada gerakan Nampiog ini Permas akan mengelilingi Areal Penataran Agung Pura Samuan Tiga. Berdasarkan buku Kahyangan Jagat Pura Samuan Tiga yang ditulis oleh I Wayan Patera, gerakan dalam tarian Nampiog adalah sebagai berikut:

3. Melakukan Gerakan Ngombak

Saat Permas melakukan gerakan ngober mekendang, di waktu yang bersamaan para Parekan mulai bersembahyang. Parekan tersebut juga akan bersiap di depan pelinggih Pamiakala. 

Kemudian, setelah Permas selesai melakukan gerakan ngober mekendang, Permas dan Parekan akan lanjut melakukan gerakan Ngombak secara bersamaan. Gerakan Ngombak adalah tarian seperti gerak arus ombak. 

Jadi, para Permas dan Parekan akan menuruni Kori Agung. Kemudian lanjut untuk mengelilingi areal Penataran Pura 3x, lalu kembali ke Pamiakala. 

4. Prosesi Inti (Ngindang)

Setelah prosesi di atas, masuk ke prosesi Ngindang atau prosesi inti. Pada tahap Ngindang ini, Permas akan menyelesaikan Siat Sampian terlebih dulu. Setelah Permas selesai, Parekan mulai menuruni Kori Agung untuk sembahyang. Usai sembahyang, Parekan akan mengelilingi areal pura 3x. 

Pada putaran ketiga, Parekan mengambil sampian dan membaginya menjadi 2 kelompok sebelum memulai Ngindang. Saat tradisi sudah mulai, Permas dan Parekan akan melakukan perang. Perang ini berupa saling pukul dan saling serang dengan penuh semangat dan kegembiraan..  

5. Penutup

Setelah perang antara Permas dan Parekan selesai, lanjut untuk tahapan penutup. Lalu, Permas dan Parekan akan menuju Pura Beji untuk meminta penyucian diri. Kemudian, penutupan tradisi ini dengan persembahyangan.

Pelaksanaan Tradisi Unik di Bali

Makna tradisi Siat Sampian melambangkan simbol perjuangan antara Dharma dan Adharma. Sehingga tradisi ini masih lestari dan pelaksanaannya setiap 1 tahun sekali.ย 

Bagi Anda yang penasaran dan ingin melihat langsung pelaksanaan Siat Sampian, maka bisa langsung menuju ke tempat proses dengan menggunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.

Selama menjelajahi Bali, Anda pasti bisa menemukan keranjang kecil dari daun kelapa di sepanjang trotoar bahkan di tempat parkir. Benda tersebut dikenal dengan sebutan Canang Sari Bali yang memiliki arti bagi masyarakat Bali. 

Canang Sari merupakan salah satu bentuk ragam budaya umat Hindu di Bali. Benda ini bukan sekedar hiasan, tapi merupakan bentuk persembahan harian kepada Sang Hyang Widhi. Lalu, apa sebenarnya Canag Sari ini? Yuk simak penjelasannya di bawah!

Mengenal Lebih Dekat dengan Canang Sari

Secara bahasa canang memiliki arti sebagai wadah yang terbuat dari anyaman daun kelapa, dan sari merupakan inti. Dan, secara historis makna Canang Sari merupakan sebuah sarana untuk memohon kekuatan kepada Tuhan. 

Canang menggunakan alas berbentuk segi empat terbuat dari janur merupakan simbol kekuatan. Lalu, di atas alas diisikan porosan yang dimaknai sebagai simbol welas asih dan ketulusan terhadap Sang Hyang Widhi. 

Asal-Usul Mengenai Canang Sari

Sejarah Canang Sari sudah ada sejah berabad-abad dan tetap dilaksanakan meski adanya perubahan evolusi zaman. Meskipun para pakar sulit menentukan garis waktu yang tepat, tapi keberadaan canang ini berasal dari Veda kuno India. 

Konsep ini dari Vedo kuno ini membuat persembahan untuk tetap menjaga keharmonisan antar manusia, dewa, dan alam semesta. Awalnya masyarakat menggunakan bahan-bahan alami yang mudah didapat.

Seiring perkembangan zaman, terdapat perbuahan struktur dan komponen Canang Sari modern. Namun, kehadiran persembahan ini menandakan kuatnya tradisi yang terus-menerus dilakukan di tengah modernnya zaman. 

Komponen Isi Canang Sari dan Maknanya

Canang merupakan perlengkapan dalam tradisi keagamaan umat Hindu di Bali sebagai persembahan tiap harinya. Di dalamnya terdapat isian yang memiliki makna masing-masing. Adapun isi Canang Sari dan maknanya, sebagai berikut!

1. Ceper atau Alas

Adapun komponen yang ada di dalam Canang Sari Bali, yakni ceper atau alas yang terbuat dari janur. Keempat sisinya adalah simbol Panca Maha Bhuta, Panca Tan Mantra, Panca Buddhindriya, dan panca Karmendriya. 

Masyarakat Hindu di Bali akan menganyam janur tersebut dengan rumit hingga membentuk sebuah keranjang berbentuk persegi. Alas ini nantinya akan menjadi wadah yang menampung seluruh elemen suci bagaikan tubuh manusia atau alam semesta. 

2. Porosan

Masyarakat membuat porosan dari daun sirih, kapur, dan gambir yang memiliki makna sebagai Tri-Premana. Komponen ini melambangkan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang membuat seorang manusia melakukan aktivitas. 

4. Bunga atau Kembang

Salah satu unsur-unsur Canang Sari yang paling mencolok pada mata adalah aneka bunga. Di dalam canang terdapat bunga putih seperti melati atau kamboja. Selain itu, ada bunga mawar, kembang sepatu, cempaka, dan tapak dara. 

Susunan bunga putih, merah, kuning, dan hijau ini merupakan bentuk hormat kepada para dewa mata angina dan Trimurti. Dengan ini, kembang melambangkan bentuk hormat terhadap dewa penciptaan, pemeliharaan, dan penghancuran. 

5. Beras

Biasanya di dalam canang juga terdapat beras atau wija yang melambangkan Sang Hyang Atma sebagai pemberi ruh pada badan. Beras menjadi benih dari awal kehidupan dan merupakan sumber dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Penutup

Canang Sari Bali adalah bentuk tradisi keagamaan yang sampai saat ini masih dilestarikan oleh masyarakat Hindu di Bali. Sebagai wisatawan, Anda tetap harus menghormati adanya sesajen tersebut. Jangan lupa gunakan Putri Bali Rental untuk memudahkan perjalanan!

Bali memang memiliki sejumlah keunikan yang sangat beragam, mulai dari alamnya sampai dengan budayanya. Salah satu kebudayaan masyarakat Bali yang sangat unik, yakni Metatah Bali. Masyarakat Bali masih terus melestarikan tradisi ini sebagai salah satu upacara penting.

Upacara adat tersebut juga dikenal dengan sebutan tradisi potong gigi, yang tujuannya untuk menyucikan diri. Tradisi ini terbilang unik dan memiliki nilai-nilai pendidikan yang sangat dalam. Agar tidak salah paham, yuk kenali upacara Metatah ini!

Mengenal Sejarah Upacara Adat Metatah 

Upacara adat potong gigi memiliki beberapa bahasa lain di Bali, yakni Mepandes, Mesangih, dan Metatah. Di mana tradisi ini merupakan salah satu rangkaian upacara keagamaan umat Hindu di Bali yang tujuannya untuk menyucikan diri.

Masyarakat menjadikan Metatah sebagai salah satu warisan budaya yang terus mereka lakukan. Tradisi ini sudah ada sejak zaman dahulu, sehingga masyarakat menganggap upacara ini sebagai suatu kewajiban.  

Jadi, seluruh umat Hindu di Bali yang telah menginjak masa remaja wajib untuk melaksanakan tradisi Metatah. Dengan mengikuti tradisi ini, orang tua berharap anak tersebut dapat menjalankan kehidupan dengan lebih baik.

Makna dari Melaksanaan Adat Metatah 

Upacara potong gigi di Bali ini memiliki makna sebagai tanda bahwa anak tersebut telah masuk fase dewasa. Dan, tradisi ini merupakan salah satu pemenuhan kewajiban bagi orang tua untuk mendidik atau merawat seorang anak hingga dewasa.

Kemudian secara spiritual, tradisi ini menjadi salah satu upaya umat Hindu untuk menyucikan diri. Dengan tradisi ini, seseorang akan mudah menghubungkan dirinya dengan para dewata, leluhur, dan Sang Hyang Widhi.ย 

Tujuan Melaksanaan Adat Metatah 

Melaksanakan Metatah Bali tidak sembarangan, dan sudah sepastinya memiliki tujuan tersendiri. Bukan sekedar membersihkan diri, tapi Metatah juga memiliki makna lainnya. Apa saja kira-kira? Simak berikut ini!

1. Menghapus Seluruh Kotoran dari Dalam Diri

Adapun tujuan Metatah yang paling utama, yakni untuk menghapus kotoran yang ada pada diri seseorang sebelum lanjut ke tingkat dewasa. Yang dimaksud kotoran adalah sifat-sifat negatif, seperti keserakahan, kebingungan, dan sifat pemarah. 

Masyarakat menganggap semua sifat jelek itu sebagai musuh bagi manusia sendiri. Oleh karena itu, orang tua perlu menghilangkan sifat tersebut sebelum anak dewasa. 

2. Melaksanakan Kewajiban Ibadah

Metatah termasuk dalam rangkaian ibadah umat Hindu yang wajib dijalankan. Jika tidak melaksanakan tradisi ini, umat Hindu akan menanggung dosa. 

3. Menanamkan Ajaran Spiritual

Kewajiban bagi para orang tua yang memiliki kesempatan untuk membesarkan anak hingga remaja, dan melakukan Metatah. Adapun tradisi ini juga mengajarkan anak untuk memahami ajaran budi pekerti luhur. 

Dengan ini, seorang anak dapat benar-benar menjadi pribadi yang baik secara sosial dan spiritual.

Prosesi Adat Metatah 

Dalam proses Metatah, sangging atau tokoh agama mengikir enam gigi sebagai simbol Sad Ripu. Sangging mengikir 4 gigi seri dan 2 gigi taring dalam prosesi tersebut. Sehari sebelum proses tersebut, anak harus melakukan sembahyang di pura untuk meminta restu.

Sehari sebelum pelaksanaan metatah, keluarga melaksanakan upacara Mecaru sebagai ritual untuk menyelaraskan dua alam. Setelah itu, mereka melaksanakan Metatah setelah matahari terbit atau pada waktu subuh sebelum matahari terbit.

Pentup 

Metatah Bali menjadi warisan budaya yang memiliki makna secara spiritual, budaya, dan juga sosial. Jika ingin melihat langsung kebudayaan Bali, jangan lupa untuk menggunakan rental mobil dari Putri Rental Bali.

Putri Bali Rental pilihan terbaik untuk sewa mobil yang aman, murah  dan terpercaya di Bali

Hubungi Kami
Sewa Mobil BaliSewa Mobil Bali
081 999 533 488
081 999 533 488
putribali.rental@gmail.com
JL. Grogol Carik, Gg Naga Mas NO. 8
Pembayaran
BCA : 7705203342
A/N I Gede Juliana
Optimized by
Jasa SEO
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram