Di Bali tidak hanya terkenal dengan panorama alam, tradisi dan adat istiadat yang kental saja, melainkan ada pertunjukan drama atau aneka festival-festival. Salah satu festival yang tak kalah populer yaitu festival layang-layang Bali yang diadakan setiap bulan Juli.
Setelah sempat vakum pada rentang puncak pandemi covid-19, layang-layang festival Bali tahun 2022 ini kembali digelar di area pantai Mertasari, Sanur, Denpasar. Acara yang diprakarsai Komunitas Seni Layangan Bali ini diikuti oleh 1.100 peserta dalam dua hari.
Gubernur Bali Wayan Koster, yang membuka acara ini, mengapresiasi perlihatkan festival layangan Bali tahun 2022 karena kegiatan yang diwariskan leluhur ini dinilai sangat baik.
Festival layang-layang Bali ini juga memperoleh dukungan dari Wakil Walikota Denpasar Kadek Agus Arya Wibawa, karena dinilai sebagai wadah bagi para pegiat seni layangan tradisional untuk mengembangkan dan menyalurkan ide kreatifnya.
Adapun berbagai jenis layang-layang yang diterbangkan seperti, Babean yaitu layangan berbentuk ikan dengan ukuran terbesar, Janggan yaitu layangan berbentuk burung dan memiliki ekor dengan panjang 100 M, serta Pecukan yaitu layangan berbentuk daun.
Ukuran layang-layang dalam festival tahunan satu ini memang benar-benar menakjubkan. Layang-layang tersebut juga dapat menghasilkan dengungan suara atau disebut dengan guwang, yaitu suara yang dihasilkan dari getaran pada tali busurnya.
Mengunjungi tempat wisata di Bali tidak hanya sekedar bermain air atau memandang deburan ombak yang saling kejar mengejar, tetapi bisa juga bermain layang-layang. Bagi yang suka melihat layangan super besar dan berekor panjang, coba saja tengok festival layangan ini.
Kegiatan menerbangkan layang-layang raksasa di pulau Dewata dilakukan dalam agenda Bali Kite Festival yang biasanya diadakan pada musim angin yakni sekitar bulan Juli sampai Oktober setiap tahunnya.
Saat menikmati festival bermain layangan ini, Anda akan menyaksikan berwarna-warni dan berbagai macam layang-layang menghiasi langit Sanur. Alunan musik gamelan pun ikut mengiringi setiap gerakan layang-layang yang tengah terbang ke udara.
Siapapun yang datang pasti akan dibuat kagum oleh eloknya festival musim angin ini. Anda dapat mengabadikan berbagai keindahan layangan melalui sebuah foto dan video.
Festival layang-layang Bali berakhir ketika menjelang sore hari, dimana angin sudah tidak berhembus kencang dan tidak bisa menerbangkan layang-layang.
Apa yang Anda ketahui tentang festival layangan di Bali? Festival ini memiliki filosofi dimana layang-layang merupakan permainan sejak warga Bali kanak-kanak hingga perwujudan rasa terima kasih kepada Dewa.
Menurut kepercayaan agama Hindu juga meyakini terdapat mitologi seorang yang bernama Rare Angon. Rare Angon yaitu penjelmaan dari Dewa Siwa yang sedang menggembalakan kerbaunya di tengah sawah.
Rare Angon sendiri dipercaya warga sebagai pelindung sawah. Saat terjadi hama wereng, jadi permainan layangan ini juga menjadi bentuk persembahan dari masyarakat Bali.
Selain itu, tradisi melayangkan ini berasal dari kebiasaan anak-anak petani yang ikut menghabiskan waktu di ladang atau area persawahan. Sembari menjaga sawah dan hewan ternak, mereka senang mengisi waktu dengan bermain layang-layang.
Sedikit info Putri bali rental, taman festival layangan Bali pertama kali diadakan di Subak Tanjung Bungkak, Denpasar tahun 1979. Setiap tahun, kegiatan bermain layang-layang di Bali mendapat sambutan dan antusiasme yang tinggi dari mana saja.ย Kami siapa mengantar anda dengan sewa mobil dengan sopir termurah di bali.
Nah, demikian sekilas tentang serunya festival layang-layang Bali yang selalu diadakan setiap tahun di musim angin. Bagaimana, apakah Anda jadi tertarik dan ingin berpartisipasi langsung dalam festival tersebut?
Pura di Bali menjadi salah satu wujud budaya khas yang kental dengan pulau kecil di sisi timur Indonesia. Suasana khas tersebut menjadikan momen berlibur jadi semakin khas dan bikin candu.
Tidak ada perpaduan nuansa yang khas seperti wilayah Bali, itulah kenapa pulau ini menjadi favorit banyak wisatawan. Mayoritas masyarakat Bali yang beragama hindu, membuat wilayah ini banyak ditemui pura dengan keindahannya tersendiri.
Selain sebagai tempat peribadatan, ternyata juga dijadikan sebagai tempat wisata yang tentu memberikan kesan tersendiri. Pengalaman baru bagi para wisatawan yang berkunjung menikmati keindahan pura di Bali.

sewa mobil di bali
1. Pura di Tanah Lot
Lokasi Pura Tanah Lot ini ada di wilayah Tabanan dan tempatnya di atas batu karang lepas pantai. Menurut tokoh agama yang masyhur di wilayah Bali, Pura Tanah Lot sudah ada sejak abad ke 16.
Keindahannya wajib Anda nikmati, karena memberikan nuansa yang berbeda dari pura yang lainnya. Yakni ada di atas batu karang dengan pemandangan lepas pantai. Selain itu wisatawan bisa menikmati matahari terbenam jika cuaca sedang cerah.
Untuk pergi ke Pura Tanah Lot, wisatawan wajib membayar tiket masuk seharga Rp20.000 untuk dewasa dan Rp15.000 untuk anak-anak. Buka pada pukul 06.00 โ 19.00 WITA.
2. Pura Luhur Uluwatu
Tempatnya berada di Desa Pecatu, Kuta, Kabupaten Badung, Bali. Menyuguhkan pemandangan yang indah dengan hamparan Samudera Hindia yang luas dari atas tebing. Terdapat banyak kawanan monyet yang mendiami wilayah Pura Luhur Uluwatu tersebut.
Namun, monyet tersebut masyarakat percayai sebagai lambang kesucian pura. Seringkali di pura tersebut juga ada pertunjukan tari kecak khas Bali. Biasanya perhelatan tari terjadi sebelum matahari terbenam di hari Kamis sampai Minggu.
Buka pukul 06.00 โ 19.00 WITA, dengan harga tiket Rp30.000 untuk orang dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak. Sementara apabila ingin melihat pertunjukan tari maka harus membeli tiket di luar tersebut.
Penjualan tiket tari mulai pukul 17.00 WITA dengan harga Rp150.000 untuk orang dewasa dan Rp75.000 untuk anak-anak.
3. Pura Ulun Danu Beratan Bedugul
Berlokasi di Desa Candikuning, Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali merupakan salah satu dari 9 Pura Kahyangan Jagat yang mengelilingi pulau Bali. Bangunan Pura Ulun Danu Beratan Bedugul ada di sisi danau.
Buka pada pukul 07.00 โ 19.00 WITA dengan harga tiket masuk Rp30.000 untuk dewasa dan Rp20.000 untuk anak-anak.
4. Pura Taman Saraswati Ubud
Apabila sempat ke Bali, Anda bisa berkunjung ke Pura Taman Saraswati Ubud yang juga merupakan tempat pemujaan Dewi Ilmu Pengetahuan Umat Hindu, bernama Dewi Saraswati.
Ciri khas pura ini mempunyai kolam indah dengan tanaman teratai di atasnya yang membuat pemandangan semakin mempesona. Pura ini buka pada pukul 07.00 โ 17.00 WITA dan bisa berkunjung secara gratis tanpa tiket masuk.
5. Pura Tirta Empul Tampak Siring
Sering wisatawan kunjungi karena adanya tradisi Melukat di tempat tersebut. Konon katanya pura tersebut punya beberapa mata air suci yang diciptakan oleh para Dewa Indra.
Katanya air tersebut bisa membawa berkah dan mensucikan orang yang mandi di sana. Buka pada pukul 08.00 โ 18.00 WITA dengan harga tiket masuk Rp30.000 โ Rp25.000 untuk anak-anak.
Nah, itulah beberapa pura di Bali yang rekomended untuk Anda kunjungi selama berwisata di sana. Butuh akomodasi transportasi selama berlibur ke Bali? Bisa menggunakan jasa sewa mobil https://www.putribalirental.com/, aman, nyaman, dan terjangkau.
Sejarah Tradisi Makepung yang ada di masyarakat Jembrana berasal dari mata pencaharian masyarakat disini yang dulunya yaitu mayoritas asalkan Pekebun/Petani. Dulunya semua petambak isikan waktu di sela-sela waktu senggangnya sehabis siap membajak sawah garapannya dengan mendirikan balapan menguntukkan kerbau. Pacuan kerbau ini bersumber dengan mencadangkan seekor kerbau, balasannya mengabdikan sepasang kerbau dan gerobak atau cikar tempat joki mengajar kerbau. Mereka saling adu cepat untuk bisa memburu tandingan tandingnya agar jarak keduanya menjadi lebih dekat atau lebih jauh. Kerbau-kerbau pacuan pula dipilih yang Paling baik, bahkan oleh tuannya, diperlakukan bak satu orang atlet, sangat dimanjakan.

Kata Makepung dalam Bahasa Indonesia berarti berkejar-kejaran, maka untuk itulah lomba yang digelar ialah saling Susul-menyusul. Suatu pacuan adu ketangkasan digelar dengan mengabdikan sepasang kerbau ditunggangi oleh satu orang joki. Untuk membuktikan pemenangnya tidak dari siapa yang pertama sampai garis finish, sebaliknya ditentukan jarak sela diantara Delegasi, rata rata ditentukan dengan jarak 10 meter, jika perizinan di depan bisa memperlebar jarak lebih dari 10 meter dengan duta ke-2 maka kandidat yang di depan terkandung menjadi pemenangnya, meskipun jika perutusan di belakangnya bisa mempersempit jarak kurang dari 10 meter, maka cabang di belakangnya yang menjadi Jawara, disinilah uniknya cara penghitungan terpandai etika Makepung jika di bandingkan dengan pacuan-pacuan Yang lain. Eksklusif memang bentuk kebiasaan yang satu ini. Namun Belas kasih, seiring perubahaan waktu keberadaan kebiasaan โ etika lama seperti Makepung ini lalu mulai langka keberadaanya. Padahal rampung mulai aneh Nampak, namun di Desa Delod Berawah, Desa Kaliakah, dan Desa Mertasari etika ini bisa kita lihat setiap tahunnya. Hal ini karena Sang penguasa Kabupaten Jembrana wahid ingin memagari salah satu kebudayaan istimewa dan spesial milik Jembrana dengan cara mengerjakan invitasi makepung untuk mempercekakkan piala Tumenggung Cup dan Jembrana Cup.
Pergulatan Makepung ini dimeriahkan dengan disertai iringan musik Jegog yang yaitu musik gamelan tradisional khusus Jembrana. Suasanya bakal sangat meriah, tambahan pula kerbau-kerbau pacuan dihiasi mahkota pada molekul kepalanya begitu pula dengan tanduk dan leher kerbau pula ikut dihiasi, maka kasatmata lebih Trendi, gagah dan indah. Satu buah pataka pada kerbau pacuan tidak tunggakan seumpama lambang kebesaran pemiliknya. Atraksi makepung ini pukul rata dilaksanakan sesudah periode panen, saat sawah kering Separuh( April, Mei, atau Juni), di mana aktivitas tertera digelar di Berwisata pada areal persawahan atau di daratan pada areal kering. Makepung yang dilakukan di lahan basah dikenal dengan Makepung Lampit.
Makepung Lampit merupakan pementasan yang pun memakai sepasang kerbau dengan menarik satu buah papan kayu yang dinamakan lampit pada palagan berlumpur, kebiasaan ini untuk menjalankan budaya agraris yang dipunyai kabupaten Jembrana, menegur masyarakat untuk senantiasa hidup bergotong royong teristimewa saat mengemasi sawah, terpenting saat penjadwalan menanam Beras. Karena sebelum ditanami Beras, petak-petak sawah yang usai dibajak dan digenangi air diratakan makin Silam, metode perataan tanah atau lumpur ini mencadangkan satu buah papan (lampit) dan ditarik oleh sepasang kerbau, setelah itu berbunga menjadi Makepung Lampit. Makepung Lampit ini rata-rata diadakan beberapa bln Juli hingga November.
Makepung yakni salah satu kebudayaan yang dipunyai oleh Kabupaten Jembrana. Makepung adalah suatu rutinitas balapan kerbau yang bersumber dari hal isi waktu luang seputar pembajak di Jembrana jaman dulu. Hingga kini hal itu menjadi salah satu icon dari kabupaten dengan julukan Gumi Kauh ini. Makepung lazimnya dilaksanakan sekitaran tanggal Juni hingga November. Kebiasaan yang borong dijadikan kalau ajang kompetisi ini ialah salah satu upaya Sang penguasa Kabupaten Jembrana untuk melestarikannya. Jika dikaji lewat 7 kebudayaan Umum, etika Makepung asal Kabupaten Jembrana ini memiliki hal โ hal distingtif dan menarik di dalamnya, menyerkup sistem bahasa, Keyakinan, sistem social, mata pencaharian, seni, teknologi, hingga ilmu pengetahuan.
Mengetahui banyak hal menyangkut Makepung tentu bakal menambah pengetahuan . Rutinitas dan kebudayaan jika tidak diperkenalkan pada generasi muda maka adat terselip perlahan bakal hilang ditelan oleh waktu. Karena hal itulah, sungguh bagusnya jika mengenal berbagai hal yang berkaitan dengan salah satu kebiasaan yang menjadi warisan dari Indonesia ini, kita pun mampu melestarikannya kepada keberadaan rutinitas ini. Sebab jika bukan kita yang melestarikannya siapa lagi ?
Kami siap melayani perjalanan anda ketika di Bali, sewa mobil lepas kunci atau dengan sopir dengan harga termurah bersama Putri Bali Rental.
Setelah membahas tentang tradisi Makepung di artikel sebelumnya, sekarang saatnya mengenal salah satu jenis Makepung yaitu Makepung Lampit.
Makepung adalah balapan kerbau tradisional khas Bali dan hanya diadakan di kabupaten Jembrana, Bali Barat. Pada dasarnya, Makepung mirip dengan karapan sapi yang ada di Madura, hanya saja Makepung memakai kerbau sebagai ganti sapi. Lampit sendiri adalah papan kayu tradisional yang ditarik oleh sepasang kerbau dan biasa digunakan oleh petani untuk meratakan sawah basah setelah dibajak dan dipersiapkan untuk penanaman padi.

Persiapan lombaย
Makepung Lampit hampir sama dengan Makepung pada umumnya. Hanya saja, dilakukan sebagai bentuk latihan pra lomba Makepung. Jika lomba Makepung dilakukan di tanah yang keras, Makepung ini dilaksanakan di tanah basah agar kerbau dan sang joki dapat melatih kebolehannya sebelum lomba Makepung dimulai.
Makepung Lampit melambangkan budaya gotong royong khas masyarakat Bali dimana setiap orang saling membantu sama lain untuk tujuan bersama. Di samping juga menandakan proses masyarakat dalam mempersiapkan musim tanam padi. Masyarakat Jembrana memiliki kebiasaan untuk membuat kesepakatan bersama untuk latihan sebelum lomba dimulai.
Nah, karena Makepung Lampit adalah sebuah latihan pra lomba, tidak ada kalah atau menang dalam loma pesertaย nanti akan dibagi menjadi dua tim. Tiap tim akan โbertandingโ untuk mengetahui sejauh mana kesiapan dan kecepatan mereka dalam mempersiapkan lomba yang akan datang.
Namun, meski hanya sebuah latihan pra lomba, tetap dapat ditonton oleh wisatawan yang datang berkunjung ke Jembrana. Agar dapat menonton, wisatawan dapat membuat permohonan khusus kepada pihak tertentu agar dapat turut menyaksikan keseruan tradisi unik ini.

Lombaย - Tanah berlumpur
Tradisi iniย sempat meredup dalam periode beberapa dekade terakhir. Baru akhir-akhir ini, badan pariwisata di Jembrana kembali menghidupkan kembali tradisi setelah puluhan tahun berhenti. Sekarang, tradisi ini diadakan setahun sekali pada akhir musim kemarau di jalur balap lurus sekitar 100 meter di sawah berlumpur.
Dalam rangkaian perlombaan Makepung yang diadakan setahun sekali di Jembrana, biasanya dilakukan di akhir acara sebagai agenda penutup dalam perlombaan. Di tahun 2019 kemarin, Lomba diikuti oleh 29 peserta yang memperebutkan hadiah dengan total nilai Rp 25 juta.
Mengingat sulitnya melatih kerbau juga tantangan dalam perlombaan itu sendiri, tidak heran jika para joki gigih dalam melakukan latihan di ajang ini . Kerbau yang memenangkan perlombaan nantinya akan memiliki harga jual yang tinggi yaitu mencapai 60 juta rupiah. Kemenangan dalam lomba Makepung menjadi kebanggaan tersendiri bagi petani yang meraihnya.
Selain menunjukkan nilai gotong royong dan kebersamaan diantara petani di wilayah Jembrana, Tradisi warisan iniย juga memiliki daya tariknya tersendiri bagi para wisatawan. Tiap tahunnya, lomba ini tidak pernah sepi dari sorakan penonton.

Latihan pacuan sebelum lombaย
Karena diadakan di atas sawah berlumpur, Penonton diberikan suguhan atraksi yang mendebarkan saat kerbau mulai berpacu melewati jalur rintangan yang dipenuhi lumpur. Bahkan jokinya kadang sampai terjatuh ketika berpacu saking terjalnya arena balap.
Pemerintah Daerah khususnya Dinas Pariwisata melihat tradisi Makepung dan Makepung Lampit sebagai aset pariwisata yang strategis dan potensial karena keunikan dan keseruannya terbukti mampu menarik perhatian wisatawan lokal dan mancanegara. Karenanya, pemerintah mulai mengembangkan tradisi ini agar imejnya tidak kalah dengan tradisi balap hewan lainnya yang ada di negara-negara lain
Jika anda berlibur di bali dan ingin mengetahui tradisi lainnya kami siap melayani perjalanan anda bersama Putri Bali Rental, tempat rental mobil di bali.
Indonesia kaya akan budaya yang beraneka ragam dan unik. Setiap daerah di Indonesia pasti memiliki ciri khas budayanya masing-masing. Di Bali, misalnya, terdapat beragam jenis atraksi budaya yang menjadi daya tarik pariwisata pulau Dewata tersebut dan seringkali dipersembahkan di hadapan para turis atau wisatawan. Contohnya adalah Tari Bali, Tari Kecak, Upacara Ngaben, dan sebagainya. Tapi, apakah Anda tahu salah satu atraksi budaya lainnya dari Bali yang tidak kalah menakjubkan dan seru untuk ditonton?

Namanya adalah Makepung, Pacuan Kerbau yang Menarik Wisatawan di Jembrana, jika di Madura terdapat tradisi Karapan Sapi, di Jembrana, Bali, tradisi tersebut dinamakan Makepung. Akan tetapi, berbeda dengan Karapan Sapi, tradisi Makepung menggunakan kerbau untuk menarik joki. Makepung adalah salah satu tradisi khas Bali dalam bentuk atraksi kerbau dan dilaksanakan di area tanah yang keras. Pada dasarnya, tradisi ini adalah lomba mengadu kecepatan kerbau dalam berlari dengan menarik lampit atau alat perata tanah.
Istilah Makepung sendiri berasal dari bahasa Bali yang artinya balapan atau pacuan untuk mencapai garis akhir (garis finish). Pertama kali muncul pada tahun 1930, atraksi makepung terus berkembang. Di tahun 1960, dibentuk sebuah organisasi Makepung yang terdiri atas dua kelompok yaitu Regu Ijo Gading Timur yang berada di sebelah timur sungai Ijo Gading dengan lambang bendera warna merah dan Regu Ijo Gading Barat yang berada di sebelah barat sungai Ijo Gading dengan bendera warna hijau.
Lalu, di tahun 1970, tradisi Makepung mulai dijadikan sebuah festival dan penyelenggara lomba mengubah aturan serta ketentuan untuk lomba tersebut. Misalnya, kerbau yang awalnya hanya seekor untuk mengikuti Makepung sekarang menjadi dua atau sepasang. Selain itu, kereta atau gerobak yang akan ditunggangi joki awalnya berukuran besar tetapi saat ini sudah diganti dengan ukuran yang lebih kecil. Kerbau juga dipasangi berbagai hiasan dan mahkota di atas kepalanya. Bendera hijau atau disematkan di cikar masing-masing kelompok.
Tradisi Makepung menunjukkan sistem gotong royong di antara para petani di daerah Jembrana. Biasanya pada awal masa tanam para petani akan mengisi kegiatan di sawah dengan adu kekuatan kerbau miliknya dalam menarik bajak. Masing-masing bajak ditarik oleh seekor kerbau yang ditunggangi oleh seorang joki (biasanya petani pemilik kerbau itu sendiri). Setelahnya, tradisi Makepung semakin banyak diminati sehingga petani di daerah tersebut mengembangkan dan memanfaatkan tradisi tersebut sebagai atraksi budaya yang menarik banyak wisatawan untuk menyaksikannya.
Tradisi Makepung dilakukan setiap tahunnya di Sirkuit Subak Maertakara yang terletak di Desa Manistutu, kecamatan Melaya, Jembrana, Bali. Sebagai bentuk kerjasama dan kegiatan gotong royong di antara para petani, tradisi dilakukan saat mulai memasuki masa ganti cocok tanam. Makepung Lampit berbeda dengan makepung biasanya. Jika makepung biasa diadakan di sirkuit tanah kering dan keras, Makepung Lampit diadakan di sawah berlumpur sebagai penanda bahwa masa tanam padi akan segera dimulai.

Nah, dalam rangka melestarikan budaya dan tradisi Makepung, pemerintah Provinsi Bali pun mulai mengadakan Lomba Makepung yang dilaksanakan setiap tahunnya dari bulan Juli hingga bulan November. Terdapat 9 kali lomba pada lokasi yang berbeda-beda. Lomba diadakan setiap dua minggu sekali pada hari Minggu.
Dari 9 lomba yang diselenggarakan, dua diantaranya dilaksanakan secara besar-besaran dan meriah yaitu Bupati Cup pada bulan Agustus dan Gubernur Cup pada bulan November. Supaya wisatawan atau warga tertarik untuk menonton, setiap kerbau dan kereta yang mengikuti lomba dihias dengan berbagai ornamen dan aksesoris tradisional khas Bali. Menonton Makepung sama sensasinya seperti menonton festival balap lari banteng di Spanyol. Pengunjung pasti menahan nafas saking tegangnya.
Setiap tahunnya, Lomba Makepung diikuti oleh setidaknya 500 pasang kerbau yang dibagi menjadi dua regu dan empat kelas. Selain menampilkan tradisi Makepung, ajang perlombaan juga turut dimeriahkan oleh pementasan kesenian-kesenian tradisional khas Bali seperti kesenian Jegog yang juga merupakan maskot Kabupaten Jembrana. Kesenian Jegog itu sendiri berisi alunan musik yang mengiringi dan memberikan semangat kepada peserta Lomba Makepung.
Ternyata, selain berfungsi sebagai hiburan dan daya tarik pariwisata, dalam tradisi Makepung juga terkandung berbagai nilai warisan budaya orang Bali lho. Tradisi Makepung secara tidak langsung menunjukkan nilai-nilai kehidupan masyarakat Jembrana yang telah dilakukan secara turun-temurun.
Contohnya adalah nilai kedisiplinan. Dalam setiap permainan, para peserta diharuskan untuk mengikuti aturan main yang berlaku. Soalnya, pemenang tidak hanya ditentukan dari kerbau yang mencapai garis akhir terlebih dahulu, tetapi juga ditentukan oleh jarak yang harus dipertahankan para peserta yang sedang bertanding. Seorang peserta akan dianggap memenangkan pertandingan apabila ia dapat mencapai garis akhir dan mampu menjaga jarak dengan peserta lainnya sejauh 10 meter di belakang selama pertandingan berlangsung.
Karena tradisi Makepung yang rutin diadakan setiap tahunnya, daerah Jembrana menjadi salah satu daerah yang banyak dikunjungi oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Hal ini tentu saja membawa banyak keuntungan bagi warga Jembrana dan peserta yang mengikuti pertandingan. Warga setempat pun memanfaatkan situasi tersebut untuk menggerakkan roda ekonomi di daerah tempat tinggalnya.
Kerbau yang menjadi peserta tradisi ini juga bukan kerbau sembarangan. Jangan kaget ketika Anda tahu kalau harga jual satu ekor kerbau Makepung bisa mencapai angka 60 juta. Dibandingkan dengan harga jual kerbau biasa yang umumnya hanya berada di kisaran empat hingga lima juta, tentu saja ini adalah angka yang fantastis.
Jika anda membutuhkan Sewa Mobil Termurah, terbaik dan terpercaya Putri Bali Rental siap melayani perjalanan anda.