
Gebug Ende Seraya merupakan tradisi yang sampai sekarang masih terus berkembang di Ds. Seraya, Karangasem, Bali. Mulanya, Gebug Ende jadi permainan tradisi laki-laki, mulai dari anak-anak hingga dewasa. Selain itu, masyarakat juga meyakini Gebug Ende sebagai tradisi sakral untuk pemanggil hujan.
Pelaksanaan tradisi Gebug Ende adalah saat musim kemarau tiba. Menurut perhitungan bulan Bali, musim tersebut datang pada sekitar bulan Oktober โ November. Untuk mengetahui lebih lanjut mengenai tradisi Gebug Ende Seraya, simak ini!
Dalam sejarah Gebug Ende Seraya, namanya berasal dari kata Gebug (memukul) dan Ende (tameng). Tameng adalah alat untuk menangkis ketika menjalankan tradisi ini. Untuk alat pemukulnya menggunakan rotan panjang (ยฑ1,5 โ 2 meter).
Sedangkan, tameng atau alat penangkisnya terbuat dari kulit sapi. Kulit sapi tersebut akan melalui proses pengeringan dan penganyaman untuk membentuk lingkaran berdiameter sekitar 2x siku orang dewasa.
Baik laki-laki dewasa maupun anak-anak bisa memainkan tradisi ini dengan teknik memukul dan menangkis. Pelaksanaan tradisi ini tidak terikat suatu lokasi tertentu, melainkan bisa di mana saja sesuai kondisi.
Biasanya, masyarakat yang akan menjalankan tradisi atau ritual ini bertempat di lapangan. Nantinya, lapangan akan ada pembatas untuk melindungi pemain dari desakan penonton. Lalu, sebelum tradisinya mulai, masyarakat akan melakukan ritual sembahyang.
Ritual tersebut bertujuan untuk memohon keselamatan dan agar tradisi tersebut bisa berjalan dengan lancar. Tradisi Gebug Ende Bali yang berjalan lancar akan memberikan kemakmuran serta mendapat tujuan utama, yaitu turun hujan.
Sebenarnya, untuk kostum para pemain Gebug Ende ini cenderung sangat sederhana. Laki-laki yang akan menjalankan permainan tradisi ini akan bertelanjang dada, menggunakan destar warna merah, Kemben/kain, dan saput hitam putih.
Selama tradisinya berlangsung, ada musik pengiring yang sering masyarakat disebut dengan Tabuh Bebonangan. Tabuh Bebonangan adalah ansambel karawitan Bali yang menggunakan sepasang kendang, reong, rincik, dan suling.
Ketika persiapan sudah selesai dan pemain sudah siap menjalankan tradisi Desa Seraya tersebut, maka permainan pun akan segera mulai. Sebelum mulai, juru kembar akan memberikan ucapan selamat, nasihat, dan aturan main untuk para pemain tradisi Gebug Ende.
Tradisi ini akan dimulai dari pertandingan kelompok anak-anak. Kemudian, lanjut kelompok orang dewasa. Saat permainan tradisi berlangsung, musik pengiring dan sorakan penontonnya membuat suasana lapangan jadi semakin ramai.
Juru kembar akan menjadi pemimpin selama permainan berlangsung. Tapi sebelum itu, juru kembar akan memberikan nasihat dan memberitahukan aturan selama permainan berlangsung. Berikut aturan permainan tradisi Gebug Ende Seraya terbaru, yaitu:
Gebug Ende merupakan tradisi turun temurun masyarakat Desa Seraya yang masih berjalan sampai sekarang. Secara umum tradisi ini bertujuan untuk memohon turunnya hujan.
Bagi Anda yang penasaran ingin melihat langsung tradisi Gebug Ende, maka bisa datang di musim kemarau sekitar bulan Oktober โ November. Untuk menuju lokasi Desa Seraya dengan cepat agar bisa melihat Gebug Ende Seraya, maka bisa gunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.