
Tidak perlu lagi dipungkiri, Bali merupakan salah satu pulau di Indonesia yang masih memegang warisan budaya dari leluhurnya. Salah satu tradisi yang masih diterus dipegang, yakni Ngusaba Bukakak.
Tradisi tersebut merupakan upacara adat yang kerap dilakukan oleh masyarakat Buleleng, lebih tepatnya di Desa Giri Emas. Upacara adat ini memiliki sejarah, tujuan, dan juga simbolnya yang sangat menarik sekali untuk dijelajahi lebih dalam!
Tradisi di Bali yang unik, dan hanya dilaksanakan setiap 2 tahun sekali dengan tujuan untuk mengungkapkan rasa syukur. Sebenarnya upacara adat ini bukan hanya dilakukan di Desa Giri Emas saja, tapi di beberapa desa seperti Sudaji dan Sangsit.
Ngusaba memiliki arti berkumpul, dan Bukakak merupakan gabungan kata dari Lembu dan Gagak sebagai lambang Dewa Siwa dan Wisnu. Tradisi ini melibatkan seluruh masyarakat untuk gotong royong mengikuti seluruh rangkaian upacara.
Tradisi Bukakak yang dilaksanakan di Giri Emas berbeda dari desa yang lain karena menggunakan babi guling setengah matang. Mengapa dipanggang setengah matang? Babi nantinya akan menampilkan 3 warna ini sebagai simbol utama melambangkan 3 dewa.
Jadi tradisi Bukakak masyarakat Desa Giri Emas, Buleleng Bali, sangat unik karena seluruh proses tradisinya penuh makna. Salah satunya ada di tatabusana, pria dewasa wajib memakai baju putih bawahan merah, dan wanita wajib memakai bawahan berwarna kuning.
Dalam upacara adat Bukakak, lima hari sebelum puncak acara akan diadakan penyucian benda sakral yang ada di pura. Benda-benda tersebut nantinya juga akan dipakai untuk sarana upacara Bukakak.
Prosesi ini bisa dibagi lagi menjadi tiga, yakni Upacara di Pura Empelan, Pura Gaduh, dan di Pura Panti. Di hari kedua ini, juga dilakukan persembahyangan di masing-masing petak sawah milik warga sebagai wujud rasa syukur terhadap hasil panen.
Tiga hari sebelum upacara adat di Bali ini dimulai, masyarakat harus melakukan prosesi nuntun. Proses ini dilakukan untuk memohon petunjuk dengan jalan berkomunikasi antara pemangku dalem dengan dewi-dewi.
Lalu, Ngembang merupakan rangkaian upacara yang akan diadakan pada hari ketiga. Besoknya, warga setempat mulai membuat Dangsil di Pura Subak. Malam harinya, ibadah digelar di tempat yang sama.
Berselang satu hari kemudian, warga mulai memasang Dangsil bersamaan dengan Penjor disertai alunan gamelan Gong Duwe. Menuju pura setempat, upacara Ngusabha berlangsung di Pura Dalem lalu diteruskan kea rah Pura Segara.ย ย
Begitu hari kelima tiba, masyarakat Desa Giri Emas mulai menyelenggarakan Ngusaba Bukakak, inti dari seluruh rangkaian acara. Penuh semarak, pelaksanaanya diwarnai dengan antusiasme tinggi dari warga setempat.
Rasa haru serta bahagia mereka tuangkan lewat penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Bukan hanya sebagai bentuk syukur, tapi juga ucapan terima kasih atas kesuburan tanah pertanian.
Setelah upacara puncak, di hari ke-6 terdapat prosesi lagi yang harus diikuti, yakni Melayagin. Prosesi ini meliputi berabgai rangkaain acara, yakni membuat Sarad Ageng, Lalu, warga akan melangsung upacara Mejaya-jaya, dan Melancaran sambil diiringi Gong Dewe.
Ngusaba Bukakak bukan sekedar upacara adat yang memiliki banyak sekali makna simbolis dan spiritual. Tapi, tradisi ini sebagai bukti bahwa warga Buleleng masih melestarikan budaya lokal. Jika ingin menjelajahi budaya di Bali, jangan lupa pakai Putri Rental Bali.