
Siat Sampian merupakan tradisi unik dan sakral yang dilaksanakan 3 hari setelah Puncak Karya Pujawali. Tradisi ini digelar setiap 1 tahun sekali di Pura Samuan Tiga, Ds. Bedulu, Kec. Blahbatuh, Kab. Gianyar, Bali.
Tradisi ini mencerminkan nilai-nilai dalam kehidupan manusia dan menyimpan makna tersendiri. Bagi Anda yang ingin tahu lebih dalam mengenai tradisi Siat Sampian ini, simak informasi lengkapnya berikut!
Siat Sampian adalah tradisi pertunjukan perang-perangan yang sarana upacaranya terbuat dari rangkaian sampian (janur). Rangkaian janur/sampian ini jadi simbolis dari bentuk padma atau cakra.
Dalam pelaksanaannya, tradisi ini terdiri atas ยฑ70 orang permas dan ยฑ400 orang parekan. Pelaksanaan tradisi ini tidak boleh dilakukan oleh orang sembarangan, melainkan akan dipilih melalui upacara atau ritual mapekeling dan pawintenan.
Dalam sejarah Siat Sampian, masyarakat percaya bahwa tradisi ini bisa menyucikan diri dan lingkungan sekitar dari pengaruh negatif. Pelaksanaan tradisi ini mengandung ajaran tentang warisan kesucian sejak masa raja-raja Bali Kuno.
Sehingga, dalam proses pelaksanaan tradisi ini memiliki serangkaian upacara dan gerakan yang harus diikuti oleh para pesertanya. Adapun prosesi tradisi ini adalah sebagai berikut:
Prosesi awal tradisi ini adalah Permas yang melakukan persembahyangan ke pelinggih Ratu Agung Panji, Ratu Agung Sakti, Pengaruman Agung, dan Pamiakala. Kemudian, permas akan lanjut untuk melakukan gerakan tarian Nampiog.
Pada gerakan Nampiog ini Permas akan mengelilingi Areal Penataran Agung Pura Samuan Tiga. Berdasarkan buku Kahyangan Jagat Pura Samuan Tiga yang ditulis oleh I Wayan Patera, gerakan dalam tarian Nampiog adalah sebagai berikut:
Saat Permas melakukan gerakan ngober mekendang, di waktu yang bersamaan para Parekan mulai bersembahyang. Parekan tersebut juga akan bersiap di depan pelinggih Pamiakala.
Kemudian, setelah Permas selesai melakukan gerakan ngober mekendang, Permas dan Parekan akan lanjut melakukan gerakan Ngombak secara bersamaan. Gerakan Ngombak adalah tarian seperti gerak arus ombak.
Jadi, para Permas dan Parekan akan menuruni Kori Agung. Kemudian lanjut untuk mengelilingi areal Penataran Pura 3x, lalu kembali ke Pamiakala.
Setelah prosesi di atas, masuk ke prosesi Ngindang atau prosesi inti. Pada tahap Ngindang ini, Permas akan menyelesaikan Siat Sampian terlebih dulu. Setelah Permas selesai, Parekan mulai menuruni Kori Agung untuk sembahyang. Usai sembahyang, Parekan akan mengelilingi areal pura 3x.
Pada putaran ketiga, Parekan mengambil sampian dan membaginya menjadi 2 kelompok sebelum memulai Ngindang. Saat tradisi sudah mulai, Permas dan Parekan akan melakukan perang. Perang ini berupa saling pukul dan saling serang dengan penuh semangat dan kegembiraan..
Setelah perang antara Permas dan Parekan selesai, lanjut untuk tahapan penutup. Lalu, Permas dan Parekan akan menuju Pura Beji untuk meminta penyucian diri. Kemudian, penutupan tradisi ini dengan persembahyangan.
Makna tradisi Siat Sampian melambangkan simbol perjuangan antara Dharma dan Adharma. Sehingga tradisi ini masih lestari dan pelaksanaannya setiap 1 tahun sekali.ย
Bagi Anda yang penasaran dan ingin melihat langsung pelaksanaan Siat Sampian, maka bisa langsung menuju ke tempat proses dengan menggunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.