
Otonan Bali merupakan perayaan setiap 210 hari untuk memperingati hari lahir menurut kepercayaan Hindu di Bali. Waktu pelaksanaan tradisi ini berpatokan pada kalender Saka-Bali yang dihitung berdasarkan Saptawara, Pancawara, dan Wuku.
Otonan Akan dilaksanakan dengan serangkaian ritual dan persembahan yang memiliki makna dan filosofi. Untuk mengenal lebih dalam tentang otonan di Bali, yuk simak!
Otonan Bali adalah peringatan hari lahir menurut Hindu di Bali yang perayaannya setiap 6 bulan sekali. Otonan berasal dari bahasa Jawa Kuno โwetuโ atau โmetuโ yang artinya keluar, lahir, atau menjelma.
Dari kata โwetuโ menjadi โwetonโ dan kemudian menjadi kata โotonโ atau โotonanโ. Tradisi ini secara umum bertujuan untuk membersihkan seseorang dari mala. Mala adalah sesuatu yang membawa kesengsaraan, rugi, atau celaka.
Saat hari tradisi otonan tiba, maka pada saat itu akan memanjatkan puja kepada Sanghyang Widhi karena atas perkenan-Nya roh/atma bisa menjelma menjadi manusia. Kemudian juga memohon keselamatan dan kesejahteraan dalam menempuh kehidupan.
Jadi secara garis besar otonan merupakan bentuk tradisi atau upacara untuk membersihkan atau menyucikan individu dari segala mala sejak dari dalam kandungan Ibu.
Pelaksanaan otonan terdiri dari beberapa rangkaian prosesi. Tapi sebelum masuk ke prosesinya, sang Ibu dan Anak yang akan diotonkan harus lebih dulu melakukan ngayab dan menghaturkan segehan untuk memohon agar prosesi otonan Bali bisa berjalan lancar. Kemudian, masuk ke tahap prosesi seperti:
Mesapuh-sapuh adalah prosesi awal dengan mengusap telapak tangan kanan anak dengan Buu sembari mengucapkan mantra otonan Bali. Mantra yang diucapkan berbunyi โNah cening jani mesapuh-sapuh, apang ilang dakin liman ceninge, apang kedas liman cening ngisiang uripโ.
Prosesi kedua ini sang Ibu akan mengoleskan daun dadap pada kedua tangan anak dengan mengucapkan mantra โJani cening masegau, suba leh liman ceninge. Melah-melah ngembel rahayuโ.
Kemudian lanjut memercikkan tirta panglukatan. Tujuannya untuk mensucikan kembali Sang Hyang Atma.
Dalam prosesi metetebus ini akan menggunakan sarana benang putih. Sang Ibu akan mengambil 2 helai benang putih dan diletakkan di kepala atau telinga anak dan satunya lagi di pergelangan tangan anak.
Saat prosesi ini Ibu akan mengucapkan โJani cening magelang benang, apang cening mauwat kawat mabalung besiโ. Kemudian, lanjut dengan memercikkan Tirta Hyang Guru. Tujuannya untuk memohon kesehatan lahir batin anak dan memohon perlindungan dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Terakhir adalah prosesi Ngayab Sesayut. Ibu akan memutar anak searah jarum jam sambil mengucapkan โJani cening ngilehang sampan, ngilehan perahu, batu mokocok, tunked bungbungan, teked di pasisi napetang perahu bencahโ.
Tujuannya agar sang Anak bisa teguh pendirian dan dan memiliki kepribadian stabil saat menjalani kehidupannya.
Setiap prosesi otonan tentu memiliki makna dan filosofi tersendiri. Sehingga dalam pelaksanaannya tidak boleh keliru dalam menetapkan hari otonan untuk si anak.
Sebab dalam lontar pawacakan dan lontar jyotisha, apabila keliru menetapkan otonan anak, maka akan mengalami hal-hal yang tidak di inginkan. Jika untuk bayi, otonan pertama kali ketika sudah berumur 105 hari karena semua panca indranya sudah aktif.
Nah, bagi Anda yang tertarik untuk melihat prosesi otonan ini, maka bisa langsung datang saat hari otonan tiba. Untuk mengantarkan Anda melihat prosesi otonan Bali, Anda bisa gunakan sewa mobil di Putri Bali Rental.