
Sudah jadi rahasia umum jika masyarakat Bali punya banyak budaya dan tradisi unik, termasuk yang terkait dengan falsafah dan gaya hidup. Salah satunya adalah Tri Hita Karana, falsafah hidup yang hingga kini masih banyak dianut oleh semua lapisan masyarakat Bali.
Khusus untuk Anda yang belum tahu apa arti karana dalam Tri Hita Karana, maka pastikan untuk menyimak penjelasannya di sini. Pasalnya, semua hal tentangnya akan dibahas secara lengkap, termasuk tentang definisi, isi ajaran, dan implementasinya di aktivitas harian.
Secara garis besar, Tri Hita Karana adalah tiga penyebab kebahagiaan. Istilah ini berasal dari bahasa Sansekerta, mengingat penggunaannya sangat umum untuk istilah penting yang terkait dengan pemerintahan, hukum, pengajaran agama Hindu, hingga falsafah hidup.
Kata Tri dalam istilah tersebut berarti tiga, kata Hita berarti kebahagiaan, sedangkan kata Karana berarti penyebab. Karena punya makna yang sangat bagus dan mendalam bagi kehidupan, tidak heran jika eksistensi falsafah hidup masyarakat Bali ini masih bertahan.
Banyak orang menganggapnya sebagai salah satu kearifan lokal masyarakat Bali yang paling esensial. Alasannya karena filosofi ini bisa mewujudkan hidup yang lebih damai dan harmonis. Jika mulai menerapkannya di aktivitas harian, Anda bisa lebih bahagia.
Masyarakat Bali mewariskan filosofi Tri Hita Karana secara turun menurun karena alasan tersebut. Harapannya, di tengah globalisasi dan homogenisasi yang terus menggempur, masyarakatnya tetap bisa menjaga keanekaragaman lingkungan dan budaya khas Bali.
Hal lain yang tidak kalah penting untuk Anda ketahui adalah sejarah Tri Hita Karana. Pasalnya, meskipun orang Bali sudah menerapkan kearifan lokal dan falsafah hidup ini sejak dulu, perumusan resminya baru ada di pertengahan abad ke-20.
Filosofi ini resmi ada sejak tanggal 11 November 1966, ketika masyarakat Bali mengusulkan agama Hindu sebagai salah satu agama resmi nasional. Orang-orang yang merumuskannya adalah agamawan, sastrawan, dan budayawan di Perguruan Dwijendra Denpasar.
Perumusannya terjadi saat Konferensi Daerah Badan perjuangan Umat Hindu Bali. Mereka sengaja menggunakan bahasa Sansekerta sebagai bahasa Tri Hita Karana karena penerapannya yang bisa berlaku secara universal, tidak hanya terbatas di Bali saja.

Karena peran filosofi Tri Hita Karana yang sangat penting bagi masyarakat Bali untuk menjaga harmoni, kedamaian, dan juga kebahagian dalam kehidupan, Anda harus tahu inti ajarannya. Sama seperti namanya, ada tiga inti ajaran yang perlu Anda tahu, yaitu:
Karena eksistensi Tri Hita Karana Bali yang sangat dekat dengan agama Hindu, sangat tidak heran rasanya jika ada makna spiritual di dalam ajarannya. Ajaran dalam kearifan lokal Bali yang bermakna spiritual ini bernama โParahyanganโ dalam bahasa Sansekerta.
Kata tersebut punya dua suku kata yang berbeda, yaitu Para yang berarti mulia dan Hyang yang berarti Tuhan. Karena itu, Anda bisa mengartikannya sebagai Tuhan yang mulia. Inti dari ajarannya pun sudah cukup jelas, yaitu hubungan manusia dan Tuhan.
Hubungan ini jadi salah satu penyebab kebahagiaan yang bisa Anda rasakan selama hidup di dunia. Terutama bagi masyarakat Bali, mengingat kebanyakan punya nilai religius yang tinggi. Karena alasan itulah orang Bali sering melakukan upacara keagamaan.
Selain hubungan dengan Tuhan, hubungan dengan manusia lain juga tidak kalah penting untuk menciptakan kebahagiaan di dunia. Karena itulah hubungannya juga diatur dalam inti ajaran falsafah hidup ini. Anda akan mengenalnya dengan nama Pawongan.
Fokus utama ajaran ini adalah untuk menjaga hubungan antar manusia agar tetap harmonis. Tujuannya agar stabilitas, kondusifitas, dan keharmonisan di tatanan sosial masyarakat bisa berjalan dengan baik. Hal ini tergambar dalam proses interaksi sosial.
Proses interaksi sosial tersebut akan diatur sedemikian mungkin dengan etika, norma, dan nilai-nilai kemanusiaan yang berlaku di Bali. Pada saat bersamaan, masyarakat juga harus patuh terhadap hukum agar bisa mewujudkan hubungan antar manusia yang baik dan harmonis.
Terakhir, manusia juga harus memiliki hubungan yang baik dengan alam dan lingkungan sekitarnya. Hal ini karena manusia tidak bisa hidup bantuan dari tanpa alam. Jadi, pastikan untuk menjaga alam agar tidak mudah rusak selama hidup di dunia.
Konsep ini akan Anda kenal dengan nama Palemahan, mengingat kata โlemahโ berarti alam, tanah, atau lingkungan. Sebagai manusia, sudah kewajiban Anda untuk menjaganya agar tetap lestari serta tidak memakainya dengan semena-mena dan berlebihan.
Setelah tahu apa saja ajaran intinya, kini saatnya untuk mencari tahu implementasi Tri Hita Karana di dalam aktivitas Anda sehari-hari agar merasa lebih bahagia. Bukan hanya untuk masyarakat Bali, namun juga semua orang yang hidup di dunia.
Beberapa contoh implementasi kearifan lokal ala orang Bali dalam kehidupan sehari-hari adalah:
Karena hubungan ini berkaitan dengan Tuhan, salah satu implementasi yang paling utama dalam kehidupan sehari-hari adalah beribadah. Anda bisa merasakannya dengan sangat jelas saat berkunjung ke Bali, mengingat ada banyak pura di hampir setiap sudut kota.
Bahkan, salah satu implementasi yang paling dasar dari ajaran ini adalah Tirtha Yatra, yaitu kunjungan ke tempat-tempat suci. Beberapa contoh pura yang bisa Anda kunjungi saat liburan ke Bali adalah Pura Tanah Lot, Pura Bukit Indrakila, dan lain sebagainya.
Selain itu, Anda juga bisa belajar lebih jauh lagi tentang ilmu-ilmu agama. Tidak hanya untuk umat Hindu saja, namun juga untuk agama lainnya. Hal ini karena semua orang yang beragama pasti ingin punya hubungan baik dengan Tuhan atau berbagai manifestasi-Nya.
Selama berada di sistem bermasyarakat, Anda tidak mungkin bisa hidup sendirian. Karena itu, Anda bisa mengamalkan ajaran Pawongan dengan selalu berbuat baik ke sesama. Hindari hal-hal yang tidak sesuai dengan etika, norma, dan hukum lain yang ada di masyarakat.
Jangan lupa saling menghargai dan megasihi sesama manusia, jangan sampai mendiskriminasi dan melakukan persekusi pada kelompok lainnya. Hal ini karena manusia harus bisa hidup berdampingan secara harmonis di tengah keanekaragaman manusia.
Implementasi pelemahan juga tidak kalah mudah, mengingat Anda hanya perlu menjaga lingkungan agar tidak rusak. Bisa dimulai dengan membuang sampah pada tempatnya, tidak menebang pohon secara sembarangan, dan berbagai aktivitas lain untuk menjaga alam.
Selain menjaganya agar tidak mudah rusak, Anda juga bisa mendekorasi lingkungan agar terlihat lebih asri dan indah. Contohnya dengan menanam bibit pohon baru, memelihara tanaman indoor dan outdoor di rumah, hingga membuat taman.
Itulah informasi lengkap tentang Tri Hita Karana yang perlu Anda ketahui, dari definisi, ajaran, hingga implementasinya. Jika ingin belajar lebih banyak tentangnya, Anda bisa mengunjungi desa-desa adat. Pastinya, dengan menyewa mobil di Putri Bali Rental!