putri bali rental mobil di bali

Berbicara soal Ubud, desa ini memang terkenal di kalangan turis sebagai daerah wisata budaya. Anda bisa menemukan banyak peninggalan sejarah, salah satunya adalah Pura Gunung Lebah yang terletak di Jalan Raya Ubud Nomor 23, Sayan, Payangan.

Karena lokasinya yang ada di jantung Desa Ubud, ada banyak turis yang penasaran soal pura ini. Jika melihatnya dari luar, kesan pertama yang akan Anda dapatkan adalah “indah”. Namun, bukan hanya itu daya tariknya, berikut adalah informasi lebih jauhnya! 

Daya Tarik Gunung Lebah

Sebagian besar dari Anda pasti sudah tahu jika ada ratusan pura di Bali yang layak untuk dikunjungi. Namun, apa yang membedakan Pura Gunung Lebah Ubud dengan pura yang lain? Anda bisa menemukan semua daya tarik pura tersebut di sini! 

1. Sarat Akan Sejarah

Ada banyak pura tua di Bali, misalnya seperti Alas Kedaton di Kabupaten Tabanan dan Pura Pabean di Kabupaten Buleleng. Kabupaten Gianyar pun tidak ingin ketinggalan, mengingat ada banyak pura di Gianyar yang sangat kaya akan sejarah.

Salah satunya adalah Gunung Lebah, yang menurut sejarah sudah ada sejak abad ke-8. Masyarakat sekitar percaya bahwa orang yang mendirikan pura ini adalah Rsi Markandeya, seorang tokoh agama asal India yang mengenalkan agama Hindu ke orang Bali. 

Selama perjalanannya di Bali untuk menyebarkan ajaran agama Hindu, Rsi Markandeya akhirnya sampai di sebuah lereng bukit. Bukit tersebut dinamai Gunung Lebah karena ada dua sungai jernih timur dan barat, terlihat mengelilingi bukit. 

Dia percaya bahwa ada kekuatan magis yang kuat di bukit tersebut, hingga tercetus ide untuk mendirikan pura di sana. Setelah itu, dia melakukan meditasi agar bersatu secara spiritual dengan Tuhan. Pura ini didedikasikan untuk Dewi Danu di Gunung Batur. 

2. Bisa Melihat Keindahan Sungai dari Pura

Tidak bisa dipungkiri jika semua pura yang ada di Pulau Dewata punya desain arsitektur yang indah. Pun begitu dengan Gunung Lebah yang punya bangunan megah dan arsitektur khas Bali yang menawan. Namun, bukan hanya dari situ keindahannya.

Alasannya karena pura ini terletak di pinggir sungai, sehingga Anda bisa menikmati keindahan arsitektur pura sekaligus keindahan panorama sungai di sana. Inilah yang membedakan Gunung Lembah dengan pura lain yang biasanya ada di puncak. 

Lokasi pura ini sendiri ada di area lereng, cenderung mudah untuk Anda kunjungi. Anda bisa berkunjung sebagai seorang wisatawan atau seorang yang ingin ikut bersembahyang bagi penganut agama Hindu. Pas untuk berdoa, bermeditasi, dan ibadah lain. 

Suasananya begitu tenang dan penuh magis, cocok untuk Anda yang ingin healing. Udaranya pun sejuk, sehingga Anda bisa betah berlama-lama berada di pura ini. 

Harga Tiket Masuk ke Gunung Lebah

Bagi Anda yang ingin liburan ke sini, ada kabar baik karena harga tiket masuk ke Pura Gunung Lebah adalah gratis. Hanya saja, pastikan Anda menghormati semua orang yang datang ke pura untuk sembahyang dengan memakai pakaian yang tepat. 

Sebelum masuk, pastikan Anda memakai sarung dan selendang khusus. Biasanya, Anda bisa melihat masyarakat sekitar sedang melakukan tari atau memainkan alat musik di sini. Bisa jadi poin plus bagi Anda yang ingin belajar budaya Bali lebih jauh lagi. 

Bagi Anda yang tertarik untuk berkunjung ke Pura Gunung Lebah, jangan lupa untuk membawa mobil sendiri agar perjalanan lebih aman dan nyaman. Anda bisa menyewa mobil tersebut di Putri Rental Bali dengan harga murah dan terjangkau!

Bali adalah pulau yang memiliki julukan pulau seribu pura karena ada banyak pura yang tersebar di seluruh penjuru. Salah satu pura terkenal di Bali adalah Pura Pabean yang berada di Bali Utara.

Pura ini sangat terkenal karena memadukan arsitektur budaya Buddha, Islam, dan Hindu yang mencerminkan toleransi. Dulu, Pabean pernah menjadi tempat persinggahan bagi pedagang internasional yang melewati Pulau Bali.

Sejarah Singkat Pabean Temple

Bukti sejarah Pura Pabean berupa kedatangan pedagang dari Madura dan Tionghoa yang berlayar menuju Teluk Pulaki. Para pedagang itu berencana melakukan aktivitas bisnis di sekitar teluk.

Aktivitas perdagangan itu terjadi sekitar tahun 1411 caka atau 1489 masehi sesuai dengan adanya keberadaan Pabean di Teluk Pulaki. Arti kata Pabean Temple adalah adat istiadat yang menandakan bahwa pura ini adalah tempat persinggahan para pelaut di zaman dulu.

Ada juga yang mengatakan bahwa Pabean berasal dari kata bea yang berkaitan dengan aktivitas bea-cukai. Artinya, setiap ada kapal barang yang melakukan bongkar muat harus membayar biaya.

Hingga saat ini, para pedagang dan peziarah masih sering mengunjungi Pabean Temple untuk melihat aktivitas di sekitar pura dan keindahan arsitekturnya. Ada juga pura lain yang bisa Anda kunjungi yaitu Pura Pulaki yang lokasinya di seberang Pabean.

Alamat dan Rute Perjalanan Menuju Pura

Alamat lengkap Pura Pabean Buleleng ada di pesisir pantai Desa Banyupoh Kecamatan Gerokgak, Kabupaten Buleleng Bali. Jika Anda ingin menikmati keindahan Bali dari sisi lain bisa mengunjungi pura ini.

Pilihan transportasi yang aman dan nyaman menuju Pura Pabean adalah mengendarai mobil. Namun, jika Anda tidak memiliki kendaraan pribadi bisa menyewa kendaraan di jasa sewa terbaik di Bali.

Waktu perjalanan dari Denpasar menuju Pabean Temple adalah 3 jam 36 menit. Rute dimulai dari Jalan Pulau Seram – Diponegoro – Hasanuddin – Thamrin – Wahidin – Cokroaminoto – Raya Sempidi – Raya Denpasar Gilimanuk.

Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Banjar Taman Tanda – Ganda Mayu – I Gusti Ketut Jelantik – Baturiti Bedugul – Raya Bedugul – Raya Singaraja Denpasar – Pancasari Baturiti – Raya Wanagiri – Munduk Wanagiri – Kayu Putih Munduk.

Selanjutnya ke Jalan Banyuatis Kayuputih – Kayuputih – Banyuatis – Mayong Gunungsari – Seririt Pupuan – Pemuda – Raya Bubunan – Ahmad Yani – Letjen S. Parman – Cekik Seririt – lokasi di kanan jalan.

Keunikan dan Arsitektur Pabean Temple

Pura Pabean memiliki beberapa pelinggih dengan arsitektur unik yaitu perpaduan antara Buddha, Islam, dan Hindu. Arsitektur pura mengandung nilai sejarah, filosofis, dan tradisional yang bisa Anda nikmati selama berkunjung.

Perpaduan tiga budaya berbeda di satu tempat ibadah adalah bentuk toleransi antar umat beragama.

Selain itu, lokasi Pabean berdekatan dengan laut yang bisa membuat Anda bernostalgia tentang bagaimana pedagang, pelaut, dan nelayan meminta keselamatan di pura ini.

Pabean adalah tempat stana Dewi Ayu Manik Subandar yang masih terawat hingga saat ini. Selain itu, ada banyak kisah sejarah Pabean yang menarik diketahui seperti tentang perjalanan Dang Hyang Dwijendra ke Pulau Dewata, kisah Kerajaan Ki Barak Panji, perjalanan bisnis kaum Bugis, Melayu, dan Tionghoa yang membawa budaya mereka sendiri.

Pabean bukan hanya sebatas pura dan tempat ibadah melainkan bukti nyata bagaimana Bali menjadi tempat persinggahan para pedagang zaman dulu.

Perjalanan menuju Pura Pabean menghabiskan waktu lama karena itu sebaiknya menyewa mobil saja di Putri Rental Bali. Ada beragam pilihan mobil yang bisa Anda sewa beserta layanan sopir berpengalaman.

Alas Kedaton Indonesia merupakan salah satu objek wisata berbentuk hutan lindung yang ada di Tabanan, Bali. Di dalam Alas Kedaton terdapat sebuah pura sakral yang penuh akan sejarah. Objek wisata ini dihuni oleh ribuan kera dan juga beraneka jenis kelelawar.

Bali memang banyak menawarkan sejumlah pesonanya, seperti monkey forest Alas Kedaton ini. Anda tidak boleh melewatkan indahnya kawasan hutan lindung tersebut, terlebih lagi Anda bisa mempelajari sejarah budaya Hindu di Bali.

Sejarah Pura Kahyangan Alas Kedaton Bali

Alas Kedaton Indonesia berada di Tabanan, Bali, dikenal sebagai objek wisata hutan lindung yang dihuni banyak kera. Sejarah Alas Kedaton ini berkaitan dengan masa pemerintahan Raja Sri Masula Masuli. Pura yang ada di Alas Kedaton dibangun oleh Mpu Kuturan.

Pura tersebut merupakan peninggalan purbakala, masa pemerintahan Sri Masula Masuli dimulai pada tahun 1178 Masehi. Bangunan sakral ini memiliki 4 pintu yang dibangun menghadap ke arah barat. 

Tidak seperti pura-pura lain yang ada di Bali, pura ini tidak memiliki halaman dalam yang lebih tinggi. Tapi, pura ini memiliki halaman utama yang lebih rendah dibandingkan halaman tengah, disebut dengan Jaba Madya Mandala. 

Hal Unik dari Pura Khayangan Alas Kedaton 

Pura Alas Kedaton berada di tengah alas atau hutan dengan ribuan kera serta kelelawar sebagai penghuninya. Bangunan prasejarah ini memiliki berbagai keunikan yang menjadi daya tarik para pengunjung, sebagai berikut!

1. Adanya Patung dan Bangunan Suci

Pura Alas Kedaton Indonesia ini memiliki beberapa bangunan suci yang disebut dengan pelinggih, lingga dan juga ada beberapa patung. Di mana beberapa bangunan suci dan patung tersebut, yakni:

2. Upacara Adat Piodalan

Pura bersejarah ini masih digunakan untuk upacara adat, salah satunya adalah upacara Piodalan. Upacara tersebut jatuh di hari Anggara Kasih Medangsia atau 10 hari setelah Hari Raya Kuningan dalam kalender Bali. 

Ada satu hal yang membuat upacara adat ini sangat unik dan berbeda dengan upacara lainnya. Piodalan yang dilaksanakan di Pura Alas Kedaton tidak menggunakan sarana dupa, kwangen dan juga penjor. 

Prosesi upacara ini harus diselesaikan sebelum matahari terbenam karena setelahnya tidak diperbolehkan untuk menyalakan lampu. Selesai prosesi upacara dilanjut dengan tradisi Ngerebeg. 

3. Pura yang Terletak di Tengah Hutan Lindung

Alas Kedaton Indonesia dikenal juga dengan Hutan Monyet atau Monkey Forest. Pura Dalem Khayangan Kedaton sangat berbeda dengan kebanyakan pura di Bali yang terletak di dekat pantai. Pura ini terletak di tengah hutan lindung yang dihuni oleh kera dan kelelawar.

Tidak perlu khawatir karena seluruh kera di hutan Kedaton ini sangat ramah, dan sudah terbiasa didekati para pengunjung. Meskipun ramah, para pengunjung tetap dihibau untuk berhati-hati dengan barang bawaan. 

Penutup

Pura Alas Kedaton Indonesia merupakan salah satu objek wisata yang tidak boleh dilewatkan selama berada di Bali. Untuk memudahkan Anda menjelajahi objek wisata di Bali, gunakan rental mobil dari Putri Bali Rental, kualitas terjamin dengan harga yang murah!

Dauh Tukad Desa Tenganan merupakan salah satu desa kuno yang terletak di kaki bukit Pegilihan. Seiring berjalannya waktu, desa ini mulai menunjukkan kondisi desanya yang modern namun tetap mempertahankan sisi tradisionalnya.  

Dalam perjalanan sejarah peradabannya, desa ini cukup banyak diminati oleh para pendatang. Apalagi saat masuk ke desa ini, masyarakat akan merasakan suasana desa yang sangat tenang dan lebih intim.

Sejarah Dauh Tukad Desa Tenganan

Sekitar abad ke-17 pada masa kejayaan I Gusti Ngurah Sidmen penguasa tanah yang tinggal di Tenganan Dauh Tukad memiliki satu putra. Atas perintah Dalem Gegel, putranya tersebut diminta untuk menjadi juru kurung.

Hanya saja permintaan tersebut ditolak yang menjadi pemicu kemarahan  Dalem Gelgel. Tidak berselang lama, Dukuh Mengku diserang dan banyak rakyatnya yang tewas. 

Singkat cerita, kekalahan Dukuh Mengku menjadikan Raja Dalem Gelgel menata dan membangun desa lokasi peperangan di Tenganan. Sedangkan di Dauh Tukad, I Made Bandesa mulai melaksanakan pemerintahan dan aci-aci di pura setempat, termasuk Pura Petung

Sejarah peradaban Dauh Tukad yang panjang dan penuh pengorbanan tersebut melahirkan Dauh Tukad Desa Tenganan yang kondisinya sudah mulai membaik. Bahkan di desa ini juga masih sangat menjaga tradisi Mageret Pandan.

Tradisi Mageret Pandan Desa Tenganan

Secara turun temurun, Desa Adat Tenganan Dauh Tukad, Kab. Karangasem ini menjaga tradisi Mageret Pandan. Tradisi Mageret Pandan ini akan dilaksanakan setiap tahunnya oleh desa adat setempat. 

Margeret Pandan adalah tradisi atau upacara yang dilakukan sebagai simbol Tabuh Rah (persembahan darah). Bedanya, persembahan ini bukan berasal dari darah ayam, melainkan darah manusia yang terjatuh setelah saling mageret.

Kata Mageret artinya saling menggoreskan. Sehingga tradisi ini dilakukan dengan cara menggoreskan pandan berduri ke tubuh lawan. Selesai berperang, luka yang di tubuh akibat goresan tersebut akan diobati dengan ramuan tradisional dari kunyit.

Tujuan tradisi ini dilakukan adalah sebagai bentuk penghormatan warga Desa Tenganan kepada Dewa Indra, yaitu seorang dewa perang. Warga Desa Tenganan meyakini bahwa para pendahulu di desa tersebut adalah para prajurit perang yang tangguh. 

Sehingga tradisi ini sangat erat kaitannya untuk dipersembahkan kepada dewa perang, yaitu Dewa Indra. Selain itu, tradisi ini ini dilakukan juga semata untuk mendukung keberlangsungan dan pelestarian tradisi yang ada di Desa Tenganan, desa tertua di Karangasem. 

Tradisi Margaret Pandan dipercaya juga melambangkan ketulusan. Jadi setelah melaksanakan tradisi ini, maka tidak ada yang dendam dan emosi, karena semuanya akan dilakukan dengan suka cita.

Kondisi Desa Tenganan Dauh Tukad

Bali memang terkenal sebagai pulau yang kental dengan tradisi dan budaya. Salah satu kawasan yang sangat menjaga tradisi budayanya adalah Desa Tenganan Dauh Tukad Karangasem. 

Punya warisan unik namun jarang dibicarakan dalam satu nafas, menjadikan desa ini cukup tertutup dan intim. Meski demikian, mulai dari sejarah, tradisi, hingga kondisi desanya tetap sangat menarik untuk dibicarakan. 

Saat ini, kondisi rumah di Tenganan Dauh Tukad beberapa sudah menggunakan genteng dan tembok. Untuk tata letaknya juga sudah menyatu, seperti rumah, kebun buah, hingga kandang hewan berada dalam satu lokasi.

Masyarakat desa setempat juga menyebut bahwa disana tidak terlalu kaku soal bangunan, namun tetap mempertahankan unsur tradisionalnya. Untuk kondisi desa disana cukup intim dan lebih tenang dibandingkan desa-desa lainnya di Bali.

Bagi Anda yang ingin berkunjung ke Tenganan Dauh Tukad, maka perjalanan bisa lebih cepat sampai dengan menggunakan mobil rental. Untuk rekomendasi rental terbaik yang bisa mengantarkan Anda ke Dauh Tukad Desa Tenganan adalah Putri Bali Rental.

Bali selalu memiliki cerita tersendiri yang mampu memikat perhatian wisatawan dunia untuk berkunjung. Selain keindahan alam dan kelezatan kuliner, tradisi unik di Bali juga menjadi alasan wisatawan terus berdatangan ke sini. 

Kekayaan dan adat istiadat di Pulau Dewata masih dilaksanakan hingga saat ini. Beberapa tradisi bahkan memiliki makna tersendiri yang menggambarkan kehidupan masyarakat Bali. Berikut beberapa tradisi di Bali yang sangat unik beserta penjelasannya. 

Tradisi Unik di Bali 

Tradisi unik di Bali adalah salah satu daya tarik Pulau Dewata karena banyak masyarakat mancanegara yang penasaran dengan adat istiadat di pulau tersebut. Berikut beberapa daftar tradisi Pulau Dewata yang bisa disaksikan di hari-hari tertentu.

1.Pengerupukan 

Pengerupukan dilaksanakan saat menjelang Hari Raya Nyepi di Bali yang bertujuan mengusir Bhuta Kala dari rumah-rumah warga. Bhuta Kala adalah gambaran karakter buruk umat Hindu sehingga harus dihilangkan.

Caranya adalah masyarakat akan memukul benda keras-keras sambil membakar boneka besar atau ogoh-ogoh. Kegiatan ini dilakukan sebagai bentuk menghilangkan karakter jahat sebelum memasuki Hari Raya Nyepi.

Hari Raya Nyepi identik dengan suasana sepi dan gelap sepanjang hari. Masyarakat Bali akan mematikan lampu dan tidak boleh berisik selama satu hari. Satu hari ini sangat sepi dan tenang bahkan kendaraan tidak boleh beraktivitas di jalan.

2. Melasti

Contoh tradisi unik di Bali berikutnya adalah Melasti yaitu upacara penting agama Hindu yang dilaksanakan di pinggir Pantai Melasti. Tujuannya adalah membersihkan diri dari segala perbuatan buruk yang dilakukan di masa lalu kemudian membuangnya ke laut. 

Masyarakat Hindu akan membawa patung dewa dan peralatan upacara lainnya dari kuil ke tempat dilaksanakannya Melasti. Selama di perjalanan menuju lokasi, masyarakat Hindu akan membunyikan musik tradisional, bernyanyi, dan menari. 

3. Mekare-kare

Ada lagi tradisi yang tidak kalah unik di Bali yaitu Mekare-kare atau Perang Pandan. Tradisi ini dilaksanakan setiap tahunnya di salah satu desa di Kabupaten Karangasem. Tujuannya adalah memberi penghormatan kepada Dewa Indra selaku Dewa Perang. 

Alasan disebut sebagai Perang Pandan karena menggunakan pandan berduri sebagai senjata melawan musuh. Para peserta Perang Pandan juga akan dibekali dengan perisai untuk melindungi diri dari ancaman musuh.

4. Metatah

Metatah adalah tradisi unik di Bali yang menandakan kepercayaan masyarakat Hindu terkait tahapan yang terjadi dalam kehidupan. Mulai dari lahir, berumur 3 bulan, 6 bulan, dan sampai dewasa lalu kematian adalah tahapan yang dilalui manusia. 

Upacara Metatah atau potong gigi dilakukan dengan mengikir empat gigi seri dan dua gigi taring. Biasanya, masyarakat Hindu melakukan potong gigi sebelum melakukan pernikahan. 

5. Saraswati 

Saraswati adalah upacara yang diadakan setiap enam bulan sekali oleh seluruh sekolah di Bali. Upacara ini dilaksanakan untuk mengenang Dewi Saraswati yang dianggap sebagai Dewi Ilmu Pengetahuan. 

Upacara Saraswati dimulai sejak pagi hari, pada pagi hari, siswa akan sembahyang di pura sekolah masing-masing. 

Kemudian, siswa akan sembahyang di pura lainnya sambil mengumpulkan buku, lontar, alat tulis, dan pustaka. Peralatan sekolah dikumpulkan karena harus didoakan juga saat upacara Saraswati. 

6. Omed-omedan

Terakhir adalah Omed-omedan yang diadakan di Banjar Kaja Sesetan, Denpasar Selatan. Tradisi ini dilakukan oleh anak muda untuk menguatkan kasih sayang antar manusia. Diawali dengan sembahyang di pura lalu pementasan Barong Bangkung Jantan dan Betina. 

Keenam tradisi unik di Bali bisa Anda saksikan langsung saat berkunjung ke Pulau Dewata. Agar perjalanan keliling Bali lebih nyaman, Anda bisa menyewa kendaraan dengan sopir atau lepas kunci di Putri Rental Bali dengan harga sewa terjangkau.

Jika melihat secara sekilas, Sungai Petanu memang terlihat damai dan tenang. Namun, tahukah Anda jika sungai ini menyimpan banyak mitos dan misteri yang sangat menarik untuk diulik? Bahkan, ada sejarah panjang di setiap alur sungai yang satu ini. 

Nama lain dari sungai ini adalah Tukad Petanu, mengingat kata “tukad” adalah kata lain dari “sungai” dalam bahasa lokal. Anda bisa mengulik lebih jauh tentang apa saja mitos dan misteri yang ada di Tukad Petanu pada penjelasan lengkap di bawah ini!

Mitos dan Misteri Petanu

Pada dasarnya, Petanu adalah salah satu sungai di Bali yang menarik untuk Anda kunjungi. Terutama jika Anda menyukai mitos dan misteri, mengingat hal ini adalah daya tarik utama dari Petanu. Beberapa mitos dan misteri yang ada di Petanu adalah:

1. Kehadiran Tiga Buah Beji di Dekat Aliran Sungai

Tak bisa dipungkiri jika ada banyak kecelakaan yang terjadi di Sungai Petanu Bali. Karena itulah masyarakat sekitar membangun Beji atau tempat suci di sepanjang aliran sungai ini. Totalnya, kini Anda bisa menemukan sekitar tiga Beji di sini. 

Beji yang dibangun berfungsi sebagai tempat penetralisir segala sesuatu yang tak kasat mata, atau yang dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai hal-hal yang bersifat niskala. Hal ini karena masyarakat lokal juga menganggap jika sungai ini penuh misteri. 

Secara rutin, masyarakat lokal sering melakukan upacara adat di ketiga Beji untuk menetralkan hal-hal yang bersifat niskala. Karena mayoritas masyarakat Bali, termasuk di sekitar sungai ini beragama Hindu, maka upacara pun dilakukan secara Hindu. 

2. Sering Terdengar Musik Angker dari Area Sungai

Selain karena sering terjadi kecelakaan di sungai, masyarakat sekitar juga sering mendengar musik angker di Petanu. Jadi, tidak heran jika mereka menganggap jika sungai ini dipenuhi oleh misteri. Pasalnya, suara musik ini tidak bisa direkam oleh apapun. 

Karenanya, mereka menganggap jika alunan musik yang terdengar dari sungai berasal dari alam gaib. Pada umumnya, musik ini terdengar dari tengah malam hingga jam 03.00 dini hari. Jenis musiknya beragam, namun seringkali berupa musik disko. 

Masyarakat setempat percaya jika orang yang memainkan musik itu adalah Wong Samar yang juga dikenal dengan nama Gamang. Inilah alasan yang membuat masyarakat hanya berani beraktivitas di sungai hingga siang hari, biasanya hingga jam 14.00 WITA. 

3. Ada Banyak Peninggalan Purbakala

Ragam misteri lainnya yang bisa Anda temukan di Sungai Petanu adalah kehadiran peninggalan purbakala. Salah satuya adalah Goa Gajah, yang terletak di Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, sangat dekat dengan aliran sungai.

Ada banyak hal yang bisa Anda temukan di situs gua prasejarah ini, termasuk arca Ganesha, Trilingga, dan Hariti. Bahkan, ada 6 patung bidadari yang dipercaya memiliki pancuran air suci. Hingga kini, patung ini menjadi daya tarik utama bagi para turis. 

Lokasi

Penting untuk Anda ketahui jika lokasi Tukad Petanu berada di Pegunungan Kintamani dan melewati 3 Kecamatan, yaitu Tampaksiring, Ubud, dan Blahbatuh. Karena itulah perannya sangat penting di Bali selatan dan bermuara akhir di Pantai Saba. 

Anda bisa berkunjung ke Sungai Petanu kapan saja, asalkan tidak lebih dari pukul 2 siang dan selama aliran air sungai dianggap aman. Jika Anda tertarik untuk berkunjung, jangan lupa untuk menyewa mobil di Putri Rental Bali agar perjalanan lebih aman dan nyaman! 

Putri Bali Rental pilihan terbaik untuk sewa mobil yang aman, murah  dan terpercaya di Bali

Hubungi Kami
Sewa Mobil BaliSewa Mobil Bali
081 999 533 488
081 999 533 488
putribali.rental@gmail.com
JL. Grogol Carik, Gg Naga Mas NO. 8
Pembayaran
BCA : 7705203342
A/N I Gede Juliana
Optimized by
Jasa SEO
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram