Setiap daerah di Indonesia memiliki baju adat atau baju tradisional masing-masing. Di Bali pun memiliki pakaian adat yang berbeda dari daerah lainnya. Salah satu nama pakaian adat Bali adalah kebaya Bali.
Kebaya Bali merupakan baju adat Bali perempuan. Agar lebih mengenal mengenai pakaian adat daerah Bali, Anda dapat simak ulasan singkat berikut ini.
Selain Jawa, Bali juga memiliki pakaian adat kebaya. Jika dilihat secara sekilas, kebaya Jawa dan Bali sangatlah mirip. Nah, yang paling membuat keduanya berbeda yaitu cara menggunakan selendang.
Di Jawa, selendang digunakan sebagai selempang pundak, sedangkan di Bali selendang diikatkan pada pinggang. Hal tersebut menjadi keunikan pakaian adat Bali yang khas.
Selendang atau sabuk prada pun merupakan bagian dari pakaian adat di Bali. Biasanya selain menggunakan selendang, kebaya digunakan bersama kain kamen.
Penggunaan sabuk prada memiliki filosofi sebagai pelindung rahim dan sebagai bentuk pengendalian diri agar tidak melakukan perbuatan buruk.
Kebaya dapat digunakan sebagai pakaian untuk berbagai upacara adat, termasuk upacara adat bersifat suka dan upacara adat duka.
Untuk upacara suka, perempuan Bali biasanya menggunakan kebaya berwarna cerah, dan untuk upacara duka biasanya menggunakan kebaya berwarna gelap. Selain kebaya Bali, masih ada lagi baju adat lainnya, berikut adalah nama pakaian adat Bali lainnya.
Selanjutnya ada safari yang merupakan pakaian adat Bali pria. Ya, para pria Bali dapat menggunakan baju safari untuk berbagai kegiatan upacara adat dan aktivitas sehari-hari. Sebenarnya, safari ini sangat mirip dengan kemeja pada umumnya.
Tapi perlu diketahui jika ada makna mendalam dalam pakaian ini. Jadi, setiap pria yang mengenakannya harus selalu menjaga kerapian, kebersihan, dan kesopanan.
Sebagai pelengkap, baju safari digunakan bersama kain kamen yang dikenakan dari pinggang hingga mata kaki, lalu cara penggunaannya bisa dililit dari kiri ke kanan. Penggunanya ini melambangkan jika pria harus bisa memegang dharma dan kebenaran.
Selain kain kamen, untuk melengkapi baju safari, masyarakat pulau Dewata juga menggunakan udeng kepala. Ada dua jenis udeng, yaitu udeng dengan corak digunakan ketika kegiatan upacara adat, dan udeng polos dapat digunakan untuk kegiatan sehari-hari.
Baju adat Bali berikutnya ada payas. Payas memiliki tiga jenis, yaitu:
Seperti namanya, pakaian adat Bali payas agung terlihat sangat mewah dengan berbagai aksesoris untuk melengkapi tampilan penggunanya, sehingga tak heran jika payas agung hanya digunakan pada waktu tertentu saja seperti upacara pernikahan.
Payas agung untuk pengantin perempuan dikenakan bersama mahkota mewah berwarna emas nan menjulang tinggi, dan dengan kain merah.
Lalu pengantin pria menggunakan kain kancut prada, kampuh prada, dan umpal prada. Pengantin pria pun mengenakan berbagai aksesoris, seperti gelang nagasatru, gelang kana, rumbing pada telinga, dan cincin bermata merah,
Ini adalah pakaian adat payas tingkat menengah, jadi tampilannya lebih sederhana dibandingkan payas agung. Payas madya pun digunakan sebagai pakaian dalam berbagai upacara adat, seperti potong gigi.
Payas madya yang digunakan untuk upacara potong gigi memiliki ciri khas menggunakan model rambut gelung moding, dan pakaiannya menggunakan kamen songket asli tenun Bali, lalu dilengkapi dengan sabuk prada belah ketupat 4 warna.
Ketiga ada payas alit yang paling sederhana dari dua tipe sebelumnya. Karena lebih sederhana, payas alit sering digunakan untuk aktivitas sehari-hari, termasuk upacara harian di pura.
Jadi, nama pakaian adat Bali ada kebaya Bali, baju safari untuk pria, dan payas. Payas sendiri dibagi menjadi tiga kategori, yaitu payas agung, madya, dan alit.
Bagi Anda yang merupakan warga luar Bali, bisa juga mengenakan pakaian adat Bali saat liburan di Bali. Sebab ada beberapa tempat wisata yang mengharuskan wisatawan untuk mengenakan pakaian adat Bali. Dan pastinya, untuk mempermudah menyusuri lokasi-lokasi wisata lain di Bali, ada baiknya sewa mobil lepas kunci di Putri Bali Rental.
Bali adalah Pulau Dewata yang memiliki julukan pulau seribu pura karena mayoritas masyarakatnya beragama Hindu. Namun ada juga tempat ibadah lain di Pulau Dewata seperti gereja Katolik di Bali.
Sebagai pulau dengan keberagaman, setiap umat Kristen bisa beribadah di Bali dengan damai bersama keluarga mereka. Apabila Anda sedang berada di Bali dan ingin beribadah bisa mendatangi beberapa tempat di bawah ini.
Jadi, di Bali tidak hanya terdapat Pura saja yang menjadi tempat ibadah umat Hindu melainkan juga gereja. Di bawah ini ada beberapa gereja Kristen di Bali yang memiliki arsitektur unik dan menarik.
Gereja Katolik di Denpasar, Bali yang pertama adalah Gereja Katolik Roh Kudus Katedral Denpasar yang terletak di ibu kota provinsi Bali. Lokasinya sangat strategis karena berada di tengah kota dan pusat pemerintahan Bali yaitu di Renon.
Renon adalah wilayah yang lokasinya sangat dekat dengan Sanur sehingga Anda bisa sekaligus berwisata ke Pantai Sanur. Jarak antara gereja di Renon dengan wilayah Sanur adalah 10 sampai 15 menit apabila berkendara dengan mobil.
Anda juga bisa memilih paket pernikahan yang diadakan di Gereja Katedral sekaligus menginap di Royal Purnama, Anapuri Villa, Ylang Ylang Villa, dan Jeeva Saba Villa.
Gereja Katolik terdekat berikutnya adalah Gereja Katolik Nusa Dua yang lokasinya dekat dengan daerah kampial di Nusa Dua. Keunikan gereja ini adalah berdiri di tengah-tengah tempat suci lainnya seperti Masjid, Gereja Kristen Protestan, Pura, dan Vihara.
Bangunan ibadah yang berdiri berdampingan ini menggambarkan keharmonisan antar umat beragama di Bali. Nama lainnya adalah Gereja Bunda Maria yang lokasinya berdekatan dengan banyak tempat wisata di Nusa Dua.
Jaraknya dari Nusa Dua Beach Hotel dengan mobil hanya 10 menit saja. Anda bisa menginap di beberapa tempat seperti Grand Hyatt, Inaya Ayodya, Courtyard Nusa Dua, Hotel Melia Bali, dan Sofitel Nusa Dua jika sedang beribadah di sini.
Selain dua gereja di atas, referensi gereja katolik di Bali berikutnya adalah Gereja Katolik Santo Yoseph Denpasar. Lokasinya berada di Jalan Kepundung Denpasar Timur yang memiliki keunikan dari segi arsitektur dan interior.
Apabila ingin mengikuti acara Misa Kamis Putih, ada 2 jadwal yaitu pada pukul 6 sore dan 9 malam waktu Bali. Sedangkan untuk acara Jumat Agung dilaksanakan mulai pukul 3 sore hingga pukul 7 malam.
Jika ingin menghadiri acara Sabtu Suci atau acara Vigili Paskah, ada Misa yang diadakan pada pukul 6 sore dan 9 malam. Kemudian dilanjutkan dengan acara Minggu Paskah mulai dari pukul 06.30 sampai 18.00 WITA.
Gereja di Bali berikutnya adalah Gereja Katolik Santo Silvester yang ada di Pecatu yang berada di Jalan Raya Uluwatu, Pecatu di daerah Kuta Selatan. Pada Pekan Suci Paskah di tahun 2024 terdapat 9 misa yang akan diadakan di gereja ini.
Terakhir adalah Gereja Katolik Hati Kudus Yesus Palasari yang berada di Jalan Palasari Nomor 2 di Desa Ekasari Kabupaten Jembrana Bali. Ada 5 ibadat Pekan Suci Paskah yang dilaksanakan di gereja ini dan semua umatnya harus mengenakan pakaian adat Bali saat beribadah.
Alasannya adalah untuk mewujudkan akulturasi budaya yang kental antara budaya agama Hindu dan Kristen.Gereja Katolik di Bali di atas bisa Anda kunjungi apabila sedang pergi liburan ke Bali. Jadi, bagi umat Kristiani tidak perlu bingung mencari tempat ibadah karena Bali adalah pulau yang sangat menjaga keharmonisan antar umat beragama.ย Untuk memudahkan perjalanan Anda selama di Bali, rental mobil bali di Bali dengan harga murah yakni di Putri Rental Bali.
Pura Goa Lawah Klungkung adalah salah satu pura terkenal di Bali. Lokasi Pura Goa ini berada di Desa Pesinggahan. Kec. Dawan, Kab. Klungkung, Bali. Pura ini biasanya digunakan untuk kegiatan upacara dalam rangkaian upacara ngaben.
Belakangan ini, para wisatawan yang masuk ke pura Bali akan mendapatkan pengawasan ketat sesuai dengan SE Gubernur Bali No. 4 Tahun 2023. SE tersebut menjelaskan terkait Tatanan Baru bagi Wisatawan Mancanegara Selama Berada di Bali.
Adanya aturan baru yang berlaku bagi wisatawan, keberadaan pura ini menyimpan berbagai fakta unik yang harus dijaga. Hal inilah yang membuat pihak pariwisata menetapkan aturan tegas bagi wisatawan yang ingin masuk ke area pura.
Fakta unik Pura Goa Lawah Klungkung ini merupakan daya tarik bagi wisatawan yang ingin menyaksikan langsung di Pura Goa Lawah. Adapun fakta uniknya antara lain sebagai berikut:
Selain Pura Tanah Lot yang terkenal di Bali, Pura Goa Lawah juga merupakan salah satu pura populer yang banyak dikunjungi wisatawan.
Di bagian belakang pura ini terdapat ciri khas Goa Lawah dengan habitat kelelawar. Tetapi keberadaan sekumpulan kelelawar itu tidak mengganggu umat Hindu saat melaksanakan upacara atau peribadatan lainnya.
Keberadaan kelelawar ini diklaim sudah berabad-abad lamanya, yakni sekitar 1007 Masehi. Kala itu bertepatan dengan perjalanan pendeta sakti dari Jawa, Mpu Kuturan yang datang ke Bali.
Selain itu, sejarah Pura Goa Lawah cukup panjang. Berawal dari pemujaan alam gua kelelawar, laut, dan gunung di zaman Megalitikum. Kemudian mulai dikembangkan bangunan pelinggih stana para Dewa Mpu Kuturan abad X.
Pura Goa Lawah merupakan salah satu Pura Sad Kahyangan di Bali untuk Nyegara Gunung. Pada pura yang satu ini memang terkenal ramai dikunjungi oleh umat beragama Hindu.
Selain digunakan untuk sembahyang, di pura ini juga biasa dipakai sebagai tempat upacara Nyegara Gunung. Upacara ini bertujuan agar roh-roh atau atman yang sudah meninggal setelah diaben menjadi Dewa Pitara.
Sementara itu, terdapat Piodalan yang datang setiap enam bulan sekali pada Anggara Kasih atau Anggara Kliwon Wuku Medangsia, Ida Bhatara Nyejer selama 3 hari. Pada waktu-waktu itu, pura ini akan ramai digunakan untuk nyegara gunung.
Nama pura ini memang dikenal cukup mendunia. Pura Goa Lawah Klungkung menjadi salah satu destinasi unik yang ada di Bali. Destinasi ini cukup banyak menarik pengunjung, baik domestik atau asing saat berlibur di Bali.
Sehingga untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, pengelola objek wisata pura goa lawah ini menerapkan sejumlah aturan ketat.
Aturannya adalah, wisatawan harus membayar Rp 25 ribu/orang, jika ditambah sewa kemen maka harus menambah biaya Rp 5 ribu.
Untuk wanita yang sedang datang bulan tidak diperbolehkan masuk ke pura, baik dari pintu masuk pertama atau utama mandala. Selain itu, wisatawan juga akan didampingi oleh guide loka agar tetap menjaga kesucian pura.
Pura Goa Lawah selain bisa mengunjungi pura juga terdapat beberapa area wisata pendukung bagi para wisatawan. Area wisata Pura Goa Lawah ini meliputi Bukit Tengah, Pantai Persinggahan, dan rest area Persinggahan.
Bagi wisatawan yang ingin berkunjung di area wisata pura ini, maka terdapat penginapan Pura Goa Lawah. Letak penginapannya berdekatan dengan area-area wisata yang ada di sekitar pura.
Kabar terbaru dari pura Goa Lawah ini telah meresmikan plaza kuliner serta beberapa tempat cendera mata. Area-area ini bisa Anda temui di sepanjang pantai Persinggahan, tepatnya di depan Pura Goa Lawah Klungkung. Dan pastinya, untuk mempermudah menyusuri lokasi-lokasi wisata lain di Bali, ada baiknya rental mobil lepas kunci di Putri Bali Rental.
Upacara adat Bali berkaitan dengan kegiatan keagamaan Hindu, agama yang dianut mayoritas masyarakat Bali. Upacara adat ini adalah bagian dari keseharian masyarakat di pulau ini. Upacara adat tidak hanya menarik minat para pelakunya tetapi juga wisatawan.
Pasalnya, pada saat upacara seluruh masyarakat bisa berbaur dengan mengenakan pakaian adat Bali, sesuai dengan jenis upacaranya. Maka tak heran jika upacara adat di Bali selalu ditunggu-tunggu oleh warganya maupun wisatawan yang berkunjung.
Bali mempunyai banyak potensi pariwisata dan budaya. Tak heran jika pulau yang dijuluki Pulau Dewata ini tak pernah sepi wisatawan. Ingin melihat sisi lain Bali? Dapatkan momen seru dengan menyaksikan 5 tradisi Bali yang terkenal berikut ini.
Upacara Ngaben adalah salah satu upacara adat yang terkenal di Bali. Ngaben sendiri adalah upacara pembakaran jenazah. Upacara ini dilaksanakan dengan tujuan untuk menyempurnakan jenazah.
Upacara Ngaben terbagi dalam beberapa kategori, yaitu Ngaben Asti Wedana, Ngaben Sawa Wedana, dan Swasta. Umumnya upacara yang paling sering dilakukan adalah Ngaben Asti Wedana.
Dalam upacara ini jenazah dikuburkan terlebih dahulu, hingga nantinya hanya tulang belulangnya saja yang melalui proses pembakaran. Upacara Ngaben tidak selalu dilaksanakan, karena biaya yang diperlukan untuk menyelenggarakannya tidak sedikit.
Upacara adat Bali berikutnya yaitu upacara Mekare-kare. Upacara ini dikenal juga dengan sebutan โperang daun pandanโ, karena para pesertanya bertarung menggunakan daun pandan berduri.
Upacara ini diadakan sebagai bentuk penghormatan terhadap Dewa Indra yang merupakan dewa perang dalam agama Hindu.
Upacara ini hanya untuk laki-laki pemberani dan tangguh. Prosesi ini diiringi dengan musik gamelan yang nyaring dan sorak-sorai penonton. Setelah perang usai, mereka akan dirawat dan didoakan oleh orang yang lebih tua agar mereka tidak merasakan kesakitan.
Upacara Melasti dimaksudkan sebagai penyucian diri bagi masyarakat Hindu di Bali dengan mengunjungi beberapa sumber air suci seperti danau, mata air, dan laut yang diyakini menyimpan mata air keabadian atau Amerta.
Dalam acara ini, pejabat Hindu akan memercikkan air suci ke kepala setiap orang yang datang untuk membuang hal-hal buruk di dalam tubuh.
Upacara adat Bali yang menarik lainnya yaitu upacara omed-omedan. Upacara ini biasanya dilaksanakan setelah hari raya Nyepi. Pada awal upacara, terdapat kegiatan doa massal di pura.
Kemudian, kelompok remaja putri yang belum menikah berusia 18 hingga 30 tahun akan saling berhadapan. Umumnya akan ada satu remaja putri dan remaja putra yang maju ke depan dan disiram air.
Kemudian mereka akan saling berkelahi, kegiatan ini terkadang diakhiri dengan keduanya saling berciuman.
Upacara Saraswati diadakan untuk merayakan ilmu pengetahuan. Melalui upacara ini, umat Hindu mengadakan ritual pemujaan terhadap Dewi Saraswati yang dipercaya membawa ilmu pengetahuan ke muka bumi agar manusia menjadi terpelajar.
Segala sesuatu yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan akan didoakan dalam upacara ini, seperti kitab dan kitab suci. Anda dapat menyaksikan para penari tampil dan mendengarkan pembacaan cerita.
Upacara Saraswati terbagi dalam tiga tahap, yaitu pra-upacara, upacara utama, dan upacara penutupan.
Itulah beberapa upacara adat Bali yang sayang untuk dilewatkan saat Anda berlibur ke Bali. Disini Anda bisa merencanakan liburan seru di Pulau Dewata, dan nikmati keindahan pulau ini serta keunikan tradisi yang masih dipertahankan hingga saat ini. Jika anda membutuhkan sewa mobil murah lepas kunci atau dengan sopir, Putri Bali Rental siap menemani perjalanan anda yang aman dan nyaman.
Ketika Anda berkunjung ke Bali tidak jarang menemukan masyarakat menggunakan gelang Bali dengan beberapa warna. Nama gelangnya adalah Gelang Tridatu yang bukan gelang biasa dan memiliki arti tertentu.ย
Ternyata tidak hanya digunakan oleh masyarakat Bali saja, Anda bisa saja menemukan orang menggunakan Gelang Tridatu di luar Bali. Ada arti di balik gelang tersebut yang penting untuk diketahui.
Ada sejarah di balik gelang Tridatu asli Bali yang tidak terbentuk begitu saja seperti yang Anda lihat saat ini. Tentu saja sejarah ini penting diketahui walaupun Anda bukan warga Bali. Sejarahnya dimulai pada abad ke 14 dan 15 saat Bali berada di bawah kekuasaan Kerajaan Majapahit.
Saat itu, Kerajaan Majapahit dipimpin oleh Dalem Waturenggong. Lantas ada Raja Gelgel yang mulai melakukan penyerangan dengan mengirik Ki Patih Jelantik menuju Pulau Nusa Penida.
Kemudian, Nusa Penida yang saat itu berada dalam pimpinan Ki Dalem Bungkut melakukan kesepakatan dengan Raja Gelgel. Pertikaian tersebut akhirnya, seorang ratu bernama Ratu Gede Mecaling memutuskan untuk melindungi masyarakat Hindu yang taat kepada leluhur.
Lalu bagaimana nasib masyarakat yang tidak patuh dengan leluhur? Masyarakat tersebut akhirnya dihukum langsung oleh Ratu Gede Mecaling. Saat itulah Gelang Tridatu dibuat untuk menandakan bahwa orang yang menggunakannya termasuk orang yang taat terhadap aturan.
Masyarakat Hindu percaya bahwa gelang tersebut digunakan untuk melindungi dirinya dari mara bahaya.
Lantas siapa saja yang boleh mengenakan gelang Bali tersebut? Secara umum yang biasa menggunakan gelang tersebut adalah masyarakat Hindu di Bali. Hal ini karena aksesoris tersebut adalah ciri khas atau identitas masyarakat Bali.
Kalau Anda melihat orang mengenakan Tridatu, itu adalah masyarakat Bali. Hanya saja, tidak ada larangan bagi masyarakat yang tidak beragama Hindu untuk mengenakan gelang tersebut. Jadi, warga luar Bali juga bisa mengenakan gelang tersebut.
Berikut ini beberapa alasan mengapa gelang tersebut sangat penting bagi masyarakat Hindu di Bali.
Masyarakat Hindu di Bali percaya bahwa gelang ini yang asli adalah bentuk perlindungan yang diberikan oleh Tuhan dari mara bahaya. Sehingga ketika mengenakan gelang tersebut akan menghadirkan perasaan nyaman.
Alasan mengapa gelang tersebut penting yang berikutnya adalah termasuk gelang dengan benang tiga warna. Gelang ini terdiri dari 3 warna yaitu hitam, putih, dan merah. Tiga warna tersebut melambangkan tiga kekuatan dari Tuhan yaitu Tri Murti.
Terakhir adalah sebagai identitas dari orang Bali asli yang membedakannya dengan kelompok atau masyarakat lain. Contohnya adalah untuk membedakan mana Suku Bugis dan Suku Bali bisa melihat masyarakat yang menggunakan gelang tersebut.
Hal ini karena di Bali terdapat masyarakat Bugis yang juga hidup saling berdampingan. Karena itu, untuk membedakannya bisa dilihat dari gelangnya.
Lantas apa arti dari gelang ini sendiri? Seperti penjelasan di atas bahwa terdapat 3 warna benang pada gelang tersebut. Setiap warna memiliki maknanya masing-masing seperti warna merah melambangkan kekuatan dari Dewa Brahma sebagai Pencipta.
Adapun warna hitam melambangkan Dewa Wisnu sebagai Pemelihara dan warna putih yang melambangkan Pelebur yaitu Dewa Siwa. Memiliki arti Tri Kona yaitu lahir, hidup, dan mati sebagai perjalanan dari manusia.
Gelang Bali yang memiliki tiga warna benang ini sangat penting karena bisa dijadikan sebagai pembeda masyarakat Bali dengan masyarakat Bugis yang hidup saling berdampingan. Selain itu, Gelang Tridatu juga menggambarkan perjalanan hidup manusia.
Pulau Bali terkenal dengan wisata alamnya yang begitu mengagumkan. Tak hanya itu saja, sebenarnya ada banyak hal menarik di pulau ini. Salah satunya yaitu alat musik Bali yang keberadaannya sudah mendunia.
Alat musik tersebut sudah diwariskan dari generasi ke generasi dan dijadikan sebagai warisan budaya. Tak heran jika Anda sering menjumpai alat musik tersebut di setiap pertunjukan seni yang ada di Bali.
Beragam alat musik Bali didominasi dengan alat musik tradisional yang tidak lekang oleh waktu. Untuk memainkanya pun perlu latihan intens terlebih dahulu. Bagi yang penasaran apa saja ragam alat musiknya, simak ulasan berikut ini:
Suling ini mirip dengan sulit pada umumnya. Hanya saja yang membedakan adalah bagian bentuknya yang panjang dan besar. Biasanya, cara memainkannya yaitu dengan disandarkan pada lantai dengan posisi diagonal.
Suling Gambuh terbuat dari bambu dengan dilengkapi 6 lubang nada untuk mengeluarkan suara. Terdapat pula sebuah rongga yang digunakan untuk meniup suling tersebut. Suara yang dihasilkan dari suling ini begitu merdu dan syahdu.
Gamelan merupakan alat musik yang sudah tidak asing lagi. Hampir di setiap daerah memiliki alat musik ini untuk mengiringi kesenian tradisional. Di Bali juga terdapat gamelan Bali yang memiliki bentuk berbeda dari daerah lain.
Fungsi dari gamelan ini adalah untuk mengiringi pertunjukkan yang ada di Bali dan upacara adat. Dengan adanya gamelan akan membuat suasana menjadi lebih sakral dan hikmat. Alhasil, penonton pun ikut terbawa suasana tersebut.
Alat musik tradisional Bali ini tergolong unik dan belum tentu ditemukan di daerah lain. Keunikannya berasal dari cara memainkan alat musiknya. Dimana, cara memainkannya yaitu dengan mengulum bagian palayannya.
Genggong tidak dimainkan pada semua acara di Bali. Biasanya dimainkan pada acara ritual adat yang ada di pedesaan Bali. Jadi, Anda akan cukup sulit untuk menemukan alat musik yang satu ini.
Bentuk alat musik rindik hampir mirip dengan gamelan, hanya saja material yang digunakan berasal dari bambu. Bilah-bilah bambu disusun secara rapi agar mampu mewakili nada tertentu pada alat musik tersebut.
Alat musik khas Bali ini memainkan tangga nada pentatonis. Nantinya akan ada alat pemukul khusus yang akan membuat alat musik rindik mengeluarkan suara. Anda bisa menemukan alat musik ini saat ada upacara pernikahan, kesenian rakyat, dan lainnya.
Penggunaan alat musik rindik terbilang cukup sering di acara-acara yang ada di Bali. Anda pun bisa mengamati alat musiknya setelah mengetahui ciri-ciri yang sudah disebutkan. Mampu mengenali alat musik ini tentu merupakan kebanggaan tersendiri untuk Anda.
Mendengar namanya saja, pasti Anda akan tertawa karena begitu lucu dan unik. Untuk mengenali alat musik ini sangatlah mudah karena ciri-cirinya sangat khas. Dimana bentuknya diukir mirip dengan kura-kura.
Sumber suara berasal dari logam-logam bundar yang ada pada bagian tempurungnya. Alat musik ceng-ceng menghasilkan bunyi yang dinamis dan mampu membaur dengan alat musik lainnya. Tak heran jika perpaduannya mampu menghasilkan karya yang indah.
Beberapa alat musik Bali tersebut mungkin sudah tidak asing lagi bagi Anda jika sudah sering berkunjung ke Bali. Tak hanya mengetahuinya saja, Anda juga sudah selayaknya turut menjaga keberadaan warisan budaya tersebut agar tidak punah.ย Liburan anda akan lebih hemat jika mempertimbangkan sewa mobil lepas kunci, anda dapat mengendarai mobil lebih leluasa dan lebih nyaman saat berlibur bersama pasangan maupun keluarga.